Friday , January 30 2015
Breaking News

Category Archives: Opini

Charlie Hebdo, Dieudonné dan Sinet

Tragedi penyerangan oleh 3 teroris terhadap majalah satir Perancis, Charlie Hebdo yang menewaskan 12 wartawannya dan 2 orang polisi yang sedang berjaga telah menjadi perhatian dunia karena mengisi hampir semua ruang surat kabar di seluruh dunia.

Dengan mengusung slogan “Free Speech” atau “Kebebasan Berbicara,” Charlie Hebdo membuat karikatur yang mengolok-olok Nabi Muhammad Saw. Hal tersebut tentu saja menyulut kemarahan Muslim di dunia yang sangat menaruh hormat dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Bahkan setelah penyerangan yang menewaskan 12 wartawannya, tidak menghentikan Charlie Hebdo untuk menerbitkan lagi karikatur Nabi Muhammad Saw pada edisi mingguannya Rabu ini (14/15). Dalam wawancara dengan France Info Radio, Richard Malka, pengacara Charlie Hebdo menegaskan bahwa “The Spirit of Charlie is The Right to Blasphemy,” yang dalam terjemahan bebasnya dapat berarti “Semangat dari Charlie adalah hak untuk menghujat”. Malka kemudian menegaskan bahwa makna dari tanda “Je Suis Charlie” bermakna “Anda memiliki hak untuk mengkritik agama saya, sebab itu tidak masalah.” Kemudian Malka menambahkan tidak seorangpun memiliki hak untuk mengkritik Yahudi, karena dia adalah seorang Yahudi, mengkritik Islam karena dia seorang Muslim, mengkritik Kristen karena dia seorang Kristiani.

Tapi, lanjut Malka, “Anda dapat mengatakan apapun yang anda mau, termasuk sesuatu yang sangat buruk tentang Kristen, Yahudi dan Islam, sebab di atas semua slogan itu, itulah fakta dari Chralie Hebdo.”

Dengan kata lain Charlie Hebdo mengusung kritik terhadap semua agama serta keyakinan bahkan dengan sesuatu yang paling buruk pun akan dilakukan oleh Charlie Hebdo, sebab mereka menaruh kebebasan berbicara tersebut di atas segalanya.

Dieudonné M’bala M’bala

Namun sayang apa yang dialami oleh Dieudonné M’bala M’bala (48), seorang komedian Perancis tidak sebaik perlakuan pemerintah Perancis pada Majalah Charlie Hebdo. Dieudonné terpaksa harus berhadapan dengan penyidik kepolisian Perancis karena statusnya di Page Facebooknya yang berbunyi “I feel like Charlie Coulibaly.”

Coulibaly adalah nama salah seorang teroris yang membunuh 4 orang sandera di Supermarket Kosher yang memiliki nama lengkap Amedy Coulibaly. Akibat status Facebooknya tersebut, Dieudonné harus mendapat tuduhan sebagai anti-semit atau anti Yahudi dan membela para teroris.

Hal ini bukanlah hal pertama yang dialami oleh Dieudonné, sebab setahun yang lalu, panggung komedinya telah dilarang oleh pemerintah Perancis akibat lawakannya mengolok-olok Holocaust. Dalam lawakannya dia menyindir presenter radio yang seorang Yahudi dengan menyatakan telah “mengingatkan dirinya tentang Kamar Gas pada peristiwa Holocaust.”

Pemeriksaan terhadap Dieudonné pun dilakukan Senin (12/1) lalu atas dasar hukum di Perancis yang melarang mendukung atau mendorong tindakan terorisme dan status milik Dieudonné dianggap telah bersimpati kepada pelaku teror daripada kepada korban teror itu sendiri.

Maurice Sinet

Tak jauh beda dengan apa yang dialami oleh Dieudonné, Sinet yang memiliki nama lengkap Maurice Sinet (80), salah satu kolomnis Charlie Hebdo yang memiliki nama pena Siné pada tahun 2008 menulis sebuah kolom yang mengatakan bahwa ke-Yahudi-an itu berkolerasi dengan kesuksesan sosial dan ekonomi.

Akibat tulisan di kolomnya tersebut Sinet akhirnya dipecat oleh Charlie Hebdo dan kemudian dituntut dengan dakwaan menebarkan kebencian dan dibawa ke pengadilan oleh sebuah organisasi anti rasis yang bernama Ligue Internationale Contre le Racisme et l’Antisémitisme (LICRA).

Pada Januari 2009, Sinet akhirnya menjalani pengadilannya tersebut. Dalam kolom yang ditulisnya Sinet menyebut Jean Sarkozy, anak dari Presiden Perancis pada masa itu yang pindah agama ke Yahudi untuk alasan finansial, termasuk juga pertunangan Jean Sarkozy dengan seorang gadis Yahudi bernama Jessica Seboun-Darty.

Editor Charlie Hebdo pada masa itu, Philippe Val meminta Sinet untuk memohon maaf, tapi Sinet menolak dan mengatakan bahwa “Saya lebih baik memotong kemaluan saya.” Pada akhirnya akibat dituduh anti-semit itulah Sinet dipecat dari Charlie Hebdo.

Standar Ganda Charlie Hebdo

Dari apa yang dikatakan oleh Richard Malka, pengacara Charlie Hebdo pada awal tulisan tentang kebebasan untuk berbicara ala Charlie Hebdo dan kenyataan yang dialami oleh Dieudonné dan Sinet menunjukkan bahwa slogan yang digembar-gemborkan oleh Charlie Hebdo hanyalah omong kosong belaka.

Fakta tak terbantah ini pun menunjukkan bahwa Charlie Hebdo, sebagaimana pihak Barat (dalam hal ini Eropa dan Amerika) selama ini telah menerapkan dan seringkali mempertontonkan standar ganda dalam kebijakan-kebijakan mereka terhadap negara dunia ketiga, termasuk kebijakan mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai terorisme itu sendiri.

Ditambah lagi munculnya gerakan solidaritas yang dilakukan oleh sejumlah pemimpin negara yang turun ke jalan untuk bersama-sama meneriakkan “Je Suis Cahrlie” dengan maksud menentang tindakan terorisme yang menimpa wartawan Charlie Hebdo beberapa hari terakhir ini. Bahkan di antara pemimpin negara yang tergabung dalam aksi tersebut terdapat Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, yang rezimnya pada Juli 2014 lalu nyata-nyata melakukan serangan ke sebuah pasar di wilayah Shijaiyah di timur kota Gaza dan menewaskan 17 wartawan. Bukankah fakta ini layak dijadikan bukti tambahan bahwa aksi protes yang dilakukan para pemimpin tinggi negara tersebut sejatinya hanya makin menampakkan kemunafikan mereka?

Lalu apa bedanya Free Speech atau kebebasan berbicara ala Charlie Hebdo dengan kemunafikan yang ditunjukkan Netanyahu dan kawan-kawannya?

Tentu saja kita mengutuk tindakan pembunuhan terhadap para wartawan Charlie Hebdo, namun bukan berarti kita mendukung penghinaan sarat standar ganda yang dilakukan oleh Charlie Hebdo selama ini.

Mengutuk tindakan Charlie Hebdo tidak harus dengan melakukan pembunuhan terhadap para wartawannya, namun bila masyarakat Perancis dapat turun ke jalan dan meneriakkan slogan “Je Suis Cahrlie” pasca kejadian yang menimpa wartawan majalah satir tersebut, mestinya masyarakat Perancis juga dapat melakukan hal yang sama terhadap apa yang menimpa kaum Muslim saat nabinya berulangkali dilecehkan. Demikian pula untuk Dieudonné dan Sinet.

Kecuali, jika ini semua memang tak lebih dari sandiwara kolosal yang sengaja dikreasi pihak Barat untuk lebih mendiskreditkan Islam dengan agenda-agenda terselubung di balik beragam peristiwa kontroversial dan sarat standar ganda. (Lutfi/Yudhi)

Hidup, Peka dan Berguna

Sebatang pohon singkong dapat tumbuh berdiri tegak menjulang ke atas. Ketika ‘rela’ dipotong-potong batangnya, lalu ditanam kembali ia akan tumbuh dengan tunas-tunasnya yang baru, dengan batang yang lebih banyak dan bercabang.

Dari situ dapat diambil sedikit gambaran mengenai kehidupan manusia yang rela ‘memotong’ atau memberikan apa yang ia punya untuk dikorbankan kepada orang lain yang membutuhkannya. Ia akan memperoleh imbalan berlipat dari apa yang diberikan. Sebagaimana janji Allah SWT yang akan melipatgandakan pahala dan kebaikan bagi hamba yang berjuang di jalan-Nya dan menginfakkan sebagian hartanya.

Tentu tidak mudah untuk mengorbankan apa yang kita punya untuk orang lain, sebagaimana tidak mudahnya pohon singkong yang mungkin menahan ‘sakit’ akibat dipotong bagian batangnya. Namun hal itulah yang kemudian menumbuhkan ‘tunas-tunas’ kebaikan yang kelak dapat dipetik hasil yang lebih besar.

Logikanya begini, ketika saat ini kita hanya bisa membantu meringankan beban satu orang, dan kita rela membantunya, kelak kebaikan kita akan berlipat ganda sebagaimana janji Allah SWT. Kebaikan dapat berupa apa saja termasuk harta benda. Dari situ kemudian kita akan membantu lebih banyak lagi kepada lebih banyak orang. Begitulah gambaran ‘tunas’ kebaikan yang akan selalu tumbuh dan berkembang. Tentu itu hanya dapat dilakukan dengan niat dan tekat yang kuat.

Makin Banyak Milik, Makin Banyak Beban

Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mungkin ada saatnya akan kita temui masa ketika kita harus mengungsi dari tempat persinggahan. Semuanya akan berjalan menuju tempat kehidupan yang baru, entah dimana. Semua orang berjalan berbondong-bondong membawa barang bawaannya. Yang miskin tak membawa apa-apa, yang kaya membawa barang sebanyak-banyaknya. Yang miskin akan berjalan ringan dan cepat, yang kaya akan berjalan berat dan lambat karena beban bawaannya. Hal itu juga menjadi gambaran pertanggungjawaban hamba kepada Tuhan-Nya di akhirat kelak, saat Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban setiap hamba terhadap apa yang dimilikinya baik harta-benda, ilmu dan sebagainya.

Dengan membantu orang lain, dan memberikan apa yang kita punya, otomatis akan membantu meringankan pertanggungjawaban kita kepada Allah SWT kelak, selain pahala dan kebaikan yang akan kita dapat.

Daya Adaptasi dan Peka Lingkungan

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membantu orang lain. Namun, agar tepat sasaran kita harus mampu beradaptasi dan peka terhadap lingkungan. Sebab, setiap orang tidak hanya membutuhkan bantuan dalam materi melainkan juga non materi seperti ilmu, dan sebagainya.

Banyak orang kaya, pandai, cerdas dan pintar, sementara lingkungan sekelilingnya  banyak orang miskin, bodoh, dan buta huruf. Hal itu dapat kita pahami sebagai belum adanya pemerataan sosial. Bisa karena pemerintah abai terhadap ketimpangan itu, bisa juga karena tidak adanya semangat kepedulian terhadap sesama. Kurangnya adaptasi dan kepekaan si kaya terhadap kehidupan si miskin menjadi seperti dua tebing yang tidak terhubung oleh jembatan.

Tunas Kemiskinan

Jika ada orang tua yang buta huruf, tak memiliki uang untuk menyekolahkan anaknya, tak mampu mengajari membaca karena ia sendiri tak bisa membaca, lalu bagaimana anaknya bisa lebih baik dari orang tuanya? Ini banyak terjadi di Indonesia kita.

Bagaimana Indonesia ke depan jika masih banyak anak muda ‘tunas’ bangsa tak bisa membaca? Sementara negara ‘abai’ dan si kaya diam saja.

Teringat waktu itu ada seorang anak SMP sedang menghadapi ujian sekolah dalam keadaan memiliki tunggakan pembayaran buku, dan SPP. Sementara, orang tuanya sakit dan tidak bekerja. Bagaimana ia bisa belajar dengan tenang dalam kondisi seperti itu?

Fakta lain pernah muncul dalam sebuah tayangan di televisi, anak sekolah di daerah pedalaman ketika ditanya siapa presidennya, ia tidak tahu. Ini ironis. Dan terjadi di era modern saat ini.

Seperti rumput ketika didiamkan saja akan berkembang menjadi semak-semak yang akan mengganggu pemandangan dan merusak pohon produktif lainnya. Sebagai gambaran ketika ‘tunas’ kemiskinan dan kebodohan di Indonesia di biarkan saja, justru akan menjadi beban negara, penghalang pembangunan dan sebagainya. Semua itu dapat dilihat kasat mata; pedagang kaki lima menjamur, pengemis dan pengamen dimana-mana. Sementara pemerintah hanya memberi solusi dengan penggusuran, penangkapan dan sebagainya. Tentu akan lebih manusiawi ketika mereka dicerdaskan sejak awal dan dihindarkan dari belenggu kemiskinan.

Efek buruk lain adalah meningkatnya tindak kejahatan berupa pencurian, perampokan bahkan berujung pembunuhan. Hal itu dapat dipahami ketika seorang putus asa atas kehidupannya ia dapat melakukan apa saja. Siapa yang menjadi korban? Tentu mereka, kaum yang “berpunya.” Seorang perampok hanya akan merampok sesuatu yang dianggapnya berharga, dan sesuatu yang berharga lebih identik dan dekat dengan orang ‘kaya’.

Padahal kejadian semacam itu dapat dihindari asal saja pemerintah dan masyarakat lebih peka dan peduli terhadap perbaikan kondisi lingkungan dan perbaikan taraf hidup warganegaranya. (Malik/Yudhi)

 

Musibah; antara Proses dan Ulah Manusia

Di penghujung 2014 kita dikejutkan oleh serentetan bencana. Yang terbaru adalah longsor dan pesawat komersil yang hilang sejak beberapa hari lalu dan baru dipastikan jatuh beberapa saat lalu.

Ada bencana yang di luar jangkauan manusia, seperti gempa bumi, meluapnya lumpur panas, banjir, longsor dan sebagainya, meski secara vertikal bermuara pada cara pengelolaan manusia terhadap alam. Ada bencana yang terjadi semata-mata akibat pengelolaan yang teledor terhadap alam, seperti kecelakaan transportasi dan kebakaran  bisa dikategorikan sebagai bencana non alami.

Apapun penyebabnya, setiap kali terjadi musibah, kita harus mengaitkannya dengan Sumber Kehidupan. Orang-orang Mukmin, dalam firman Allah, adalah “orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
 
Namun, itu tidak berarti tidak ada yang bisa diminta pertanggungjawaban dan bahwa setiap bencana harus disikapi secara fatalistis. Mengapa? Setiap peristiwa pada mata rantai sebab terakhir berujung pada Tuhan, sebagai Kausa Prima, namun ia juga berkaitan dengan sejumlah kausa dekat yang lain, seperti manusia dan lainnya. Artinya, Tuhan sebagai pencipta alam memang sebab terakhir, namun manusia dan makhluk lain juga bisa masuk dalam rangkaian sebab. Pada rangkaian sebab yang paling dekat dengan bencana dan peristiwa inilah, diperlukan analisis, perencanaan dan cara penggunaan yang benar.
 
Manusia dalam kehidupannya menghadapi semua kemungkinan dan aksiden. Allah Swt melimpahinya dengan aneka karunia dan rezeki, juga memberinya ragam kesulitan dan bencana sebagai ujian dan cobaan. “Dan niscaya Kami mencobanya dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah, dan kepada Kami kalian dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35). Ayat ini menegaskan bahwa semua yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, yang baik dan yang buruk, adalah bagian dari proses ujian.
 
Keburukan adalah sesuatu yang diyakini manusia sebagai kebaikan, demikian pula keburukan. Allah Swt menguji manusia dengan sesuatu yang dianggapnya buruk. Padahal apakah itu memang keburukan secara real ataukah tidak, memerlukan penjelasan yang lebih mendalam. Artinya, apa yang dianggap baik atau buruk oleh manusia tidak niscaya baik dan buruk pada hakikatnya.
 
Sakit, misalnya, adalah bencana yang dianggap oleh manusia sebagai buruk, padahal itu hanyalah keburukan yang relatif, bukan mutlak. Betapa banyak penyakit yang memberikan banyak keuntungan bagi penyandangnya. Betapa banyak penyakit kecil yang menguak penyakit kronis dalam tubuh penyandangnya, yang tidak akan diketahui dan disembuhkan, bila saja ia tidak diperiksa karena gangguan penyakit ringan itu. Kata ‘fitnah’ dalam ayat di atas adalah penegasan bahwa yang dianggap baik dan buruk itu semata-mata ujian.
 
Lalu, bencana apakah yang bisa menjadi penghimpun pahala? Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. Al-Baqarah [2]: 214). Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa bencana alam merupakan bagian yang terpisahkan dari proses kehidupan alam dan manusia.
 
Ujian juga dapat dibagi dalam dua dimensi, ujian untuk dunia dan ujian untuk akhirat. Ujian di dunia mestinya dapat mengembangkan kemampuan manusia untuk menghadapi tantangan hidup, yang membuatnya mampu bertahan hidup dan mengatasi masalah. Karena terdesak oleh banyak kesulitan alam itulah, manusia mampu menciptakan alat-alat transportasi dan menciptakan ilmu kedokteran dan lainnya.
 
Ada dua jenis manusia yang menghadapi realitas; Pertama adalah manusia yang tidak berinisiatif mengatasi masalah kecuali bila sangat mendesaknya. Manusia jenis pertama ini akan memikirkan jalan keluar setelah merasa putus asa dan tidak mampu menanggungnya. Kedua adalah manusia yang berpikir untuk menyelesaikan masalah bahkan sebelum terjadi. Manusia jenis ini melakukan antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang akan dihadapinya. Kemungkinan terjadinya persoalan cukup menjadi alasannya untuk memikirkan dan mencari solusi.
 
Manusia tidak akan abadi dalam kehidupan ini, namun akan abadi dalam kehidupan berikutnya. Demi meraih kehidupan abadi yang menyenangkan, manusia harus mau lulus ujian-ujian berat dengan sabar.

Sabar adalah sikap menerima dengan ikhlas sesuatu yang dianggap merugikan. Ada dua jenis perkara yang dianggap merugikan, yaitu sesuatu yang berada di luar kehendak, dan sesuatu yang berada dalam kendali kehendak. Seperti kata Al-Quran, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (TQS. Ali ‘Imran [3]: 186)
 
Bila kita tidak sabar saat menghadapi persoalan, dan bisa selesai karena ketidaksabaran itu, maka semestinya kita memang tidak boleh bersabar. Namun, bila dengan tidak bersabar, masalahnya tidak terselesaikan bahkan makin membesar, maka bersabar adalah jalan keluar. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQS. Al-Zumar [39]: 10)
 
Tapi, adakah batas kesabaran? Apabila sabar dipahami sebagai sikap pasif terhadap persoalan, maka itu adalah pemahaman yang salah dan harus diluruskan. Bersabar bukan membiarkan persoalan tanpa solusi, karena bukan itu yang ditetapkan akal dan agama. Bersabar secara logis adalah mengantisipasi dan mengatasi persoalan, bukan hanya bersabar menerimanya. Itulah kesabaran positif dan aktif.

Terlepas dari itu semua, korban musibah bukan hanya yang wafat dan hilang tapi juga orang-orang yang kehilangan terutama para istri, anak dan orangtua korban. Yang hilang hanya beberapa saat menderita bahkan kadang hanya sedetik. Tapi yang kehilangan bisa merasakan derita cukup lama.

Karena itu, pergantian tahun tak perlu dirayakan dengan lomba kebisingan dan hura-hura tapi sebaiknya ditandai dengan himne duka dan pengheningan cipta. Mari tunjukkan empati kemanusiaan dan kebangsaan. (Muhsin Labib/Yudhi)

Menakuti “Senyap” dan Paranoia Kiri

Bila anda termasuk penggemar kajian sejarah berlatar peristiwa 1965, tentulah film Senyap atau dalam versi internasionalnya berjudul The Look of Silence adalah tontonan yang tidak boleh dilewatkan. Di berbagai kota, film besutan Joshua Oppenheimer ini mendapat sambutan hangat dari elemen mahasiswa, aktivis pergerakan, maupun khalayak umum. Mulai dari ruang sekretariat yang sempit sampai aula nan megah, hampir semua mengagendakan pemutaran Senyap dan diskusi ilmiah membahas sisi lain huru-hara pasca 1965.

Namun, era Reformasi rupanya belum menjadi jaminan untuk bebas mengkaji topik sensitif dalam sejarah bangsa sekalipun dalam konteks wacana akademis. Lebih-lebih seputar kontroversi 1965 dan hal-hal berbau paham kiri, sebagian pihak masih merasa tabu membahasnya. Terbukti, setelah tayang perdana, beberapa waktu lalu media online Tanah Air digaduhkan dengan berita pembubaran paksa forum bedah film Senyap. Seperti di Kabupaten Malang misalnya, acara nonton bareng di Warung Kelir terpaksa dihentikan setelah seorang pria bersorban menghardik panitia karena menilai muatan film berpotensi membangkitkan “komunisme gaya baru” dan “menghapuskan sejarah versi sebenarnya.” Demikian pula di Yogyakarta, Aliansi Jurnalis Independen selaku panitia penyelenggara bedah film akhirnya terpaksa membatalkan acara setelah ditolak izinnya oleh aparat berwajib dan mendapat ancaman dari ormas tertentu.

Penolakan film Senyap adalah satu dari sekian banyak kasus yang mengindikasikan kuatnya alergi terhadap hal-hal bernuansa “kiri” dan “merah” di Indonesia. Kehadirannya masih ditakuti bak hantu: tak nyata tapi terasa.

Melalui tulisan ini saya mencoba memberi usulan mengenai bagaimana sepatutnya kita menyikapi kehadiran ideologi kiri sebagai salah satu paham yang pernah memiliki akar sejarah sejak era Revolusi Industri. Bukan kapasitas saya dalam tulisan ini melakukan apresiasi apalagi kritik terhadap konten Senyap karena secara pribadi, menontonnya saja belum.

Bisakah Ideologi Kiri Mati?

Jargon khas yang acap diteriakkan oleh kubu penentang paham kiri -entah mereka secara politik berada di kubu religius, nasionalis, maupun demokrat– adalah “Jangan Biarkan Komunisme Hidup di Indonesia!” Atau lebih satir lagi adalah mereka yang mengatakan bahwa seiring berakhirnya Krisis Perang Dingin, komunisme turut mati bersama remah-remah almarhum Blok Timur.

Benarkah segampang itu sebuah paham dapat ‘dibunuh’ hanya lewat jargon penolakan dan tindakan represif? Apakah kehancuran negara yang dulunya pernah menerapkan sebuah ideologi dalam sistem politik pemerintahannya menandakan pula bahwa paham tersebut ikut lebur digerus roda sejarah? Agaknya, naif jika kita berpikiran sebuah ideologi bisa dimatikan dengan cara-cara demikian. Mengapa?

Sebagaimana diketahui, ideologi berasal dari bahasa Yunani ideas (pemikiran manusia) dan logos (pengetahuan), yang berarti ideologi adalah seperangkat gagasan hasil pemikiran manusia mengenai cara pandang seseorang terhadap dunia dan tatanan ideal. Logikanya, jika ideologi sebagai buah kecerdasan manusia hendak dilenyapkan, maka manusia sebagai subjek pasif (penerima ideologi) maupun subjek aktif (kreator ideologi) harus dilenyapkan juga, dan tentulah ini tidak mungkin.

Ideologi apapun itu, akan tetap hidup atau setidaknya terdokumentasikan selama peradaban manusia eksis.

Lebih-lebih dalam konteks tulisan ini, pemikiran kiri harus diakui masih menemukan peminat. Salah besar jika bubarnya Blok Timur diartikan sebagai bubarnya komunisme sebagai ideologi. Hal itu hanya menandakan kegagalan sistem politik dalam tatanan praktis, sedangkan ideologi kiri sebagai suatu paham justru menyempurnakan dirinya mengikuti perkembangan zaman, tidak lagi doktriner seperti pada masa Joseph Stalin. Kemampuan paham kiri untuk melakukan otokritik dan belajar dari kegagalannya di masa lalu justru membuat ajaran Karl Marx dan Friedrich Engels ini tidak sepi peminat, bahkan warna-warni sub-aliran pemikiran di dalamnya kian kaya. Lantas, bagaimana kita harus menyikapi geliatnya?

Belajar Sebagai Kontrawacana

Karena ideologi kiri nyaris mustahil dimatikan seperti tokoh antagonis Jason Voorhees dalam sekuel film Friday 13th, maka kita harus arif menyikapi kehadirannya. Pertama-tama, sadarilah bahwa pelarangan secara represif hanya akan membuat sesuatu semakin terlihat seksi. Ingatlah hukum emas “makin dilarang makin bikin penasaran.” Menutup-nutupi kesempatan untuk memelajari hal baru disertai ancaman adalah teknik primitif di era keterbukaan. Ini sudah tidak relevan dan kontraproduktif.

Dalam istilah teori kritis, karena kiri sebagai ideologi adalah wacana, maka yang dapat kita lakukan sebagai bentuk kontrawacana adalah: mempelajarinya!

Sebagaimana petuah Sun Tzu sang maestro strategi pertempuran, jika ingin mengalahkan lawan maka berpikirlah seperti lawan. Artinya, jika hendak membendung paham kiri katakanlah, pahami secara komprehensif bagaimana alur pemikiran ideologi itu, temukan titik lemahnya, dan lakukan kritik secara ilmiah.

Kontrawacana model begini jauh lebih menusuk jantung permasalahan daripada hanya sekadar mengenal kulit luar komunisme plus variannya dari literatur yang tidak objektif. Belajar secara parsial hanya akan menghasilkan kritik mandul tanpa isi, tidak substansial malah cenderung menggelikan dari sudut pandang saintifik. Apalagi jika menanggapinya dengan ancaman dan tindakan rusuh, jelas ini adalah logika kekuatan orang lemah yang tidak mampu melakukan kontradiskursus.

Sejarah sekali lagi menunjukkan bagaimana Murtadha Muthahhari, ulama cum intelektual Iran justru mengajukan gagasan agar paham kiri diajarkan luas di institusi pendidikan, langsung oleh ideolog partai komunis Iran.

Muthahhari dengan bijak menilai bahwa hal ini tidak akan melemahkan akidah muslim Iran sehingga tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Justru dengan belajar langsung dari sumber primernya secara objektif, kaum muslim dapat menemukan kejanggalan terhadap kerancuan basis pemikiran kiri dan melakukan kritik matang.

Pula halnya Ayatullah Baqir Shadr dari Irak dengan kitab masterpiece-nya, Falsafatuna. Beliau piawai melakukan kajian kritis terhadap Marxisme berbekal sumber primer dari Lenin, Mao Tse Tung, dan Kedrov. Tidaklah mungkin beliau mampu melakukan kontrawacana seperti itu bila mengedepankan sikap paranoid.

Di Indonesia, kita mampu menemukan kearifan bersikap terhadap ideologi kiri dalam sosok Soekarno. Tak segan dirinya belajar buku-buku Marx, Engels, Proudhon, dan tokoh lainnya. Meski demikian Soekarno tetap mampu bersikap independen dari Marxisme dengan menghasilkan Marhaenisme, dan corak ke-Islaman beliau terjaga hingga di akhir hayatnya berpesan jika wafat kelak dirinya ingin diselimuti oleh bendera Muhammadiyah.

Sebagai penutup saya mengajukan pertanyaan yang cukup dijawab saja dalam hati: masihkah kita akan terus bersikap tak bijak dalam mengkonter sebuah wacana dan menakuti kehadiran film atau diskusi ilmiah layaknya penampakan makhluk gaib? (Fikri/Yudhi)

Resensi Buku: Teologi dan Falsafah Hijab Karya Muthahhari

Judul Buku      : Teologi dan Falsafah Hijab, Teologi Sosial Hijab Perempuan dalam Konsep Islam

Penulis             : Murtadha Muthahhari
Penerbit           : RausyanFikr Institute
Halaman          : xvii+171 halaman
Cetakan           : Cetakan 3, Desember 2014
Harga              : Rp 40.000,00

ABI Press_Murtadha MuthahhariMasih ingat dengan hiruk pikuk isu pelarangan hijab di lingkungan instansi BUMN yang dihembuskan oleh kader salah satu partai beberapa saat lalu? Atau munculnya kontroversi yang ditanggapi berlebihan setelah mufasir besar Quraish Shihab mengeluarkan pendapatnya soal jilbab sebagai salah satu bentuk hijab?

Ya, sebagai salah satu kewajiban kaum muslimah, kehadiran hijab di ranah publik sejak lama memancing perdebatan pro dan kontra di masyarakat. Kelompok pro umumnya mendasarkan argumennya pada nash kitab suci seperti QS 24:30-31. Sedangkan kelompok kontra menilai bahwa hijab adalah bentuk penindasan terhadap ruang gerak perempuan, pemaksaan kultur padang pasir, dan sangat patriarkis.

Pendapat kelompok kontra yang pedas tidak sepenuhnya merupakan bentuk salah kaprah dalam memahami perintah hijab. Harus diakui perilaku sejumlah oknum yang mengatasnamakan penerapan syariat dengan melarang perempuan melakukan aktivitas di luar rumah seperti yang terjadi di Arab Saudi ketika perempuan dilarang menyetir mobil sendiri dengan alasan “kepatutan,” turut membentuk opini kubu kontra dan terutama Barat menjadi negatif terhadap konsep hijab.

Lantas, bagaimanakah sebenarnya Islam memandang hijab?

Dengan gayanya yang khas: mengalir lancar, tidak menggurui, dan berperspektif multidimensional, Murtadha Muthahhari mengemukakan problem tersebut dalam buku setebal buku tulis ini. Sebagai catatan, Muthahhari memosisikan diri sebagai pendukung hijab dalam polemik klasik ini. Hanya saja argumen yang dikemukakannya tidak sekadar mengutip ayat tanpa penjelasan rasional. Menurutnya, penggunaan istilah “hijab” dalam Islam termasuk relatif baru. Sebelumnya, ahli hukum Islam memakai kosakata “satr” yang secara harfiah berarti penutup (hal.2). Hanya saja kemudian dikarenakan arti aslinya tersebut, istilah satr dapat dimaknai sebagai “perempuan yang (ditutup) di balik tirai.” Inilah lalu yang membuat salah kaprah bahwa Islam menghendaki perempuan sepenuhnya tertutup di balik tirai rumah, terpenjara secara tampilan fisik maupun potensi kreativitasnya.

Muthahhari juga membantah dari aspek sejarah bila tradisi Islam disebut hendak membatasi perempuan. Sebab menurut risetnya, jauh sebelum Islam datang sudah ada beberapa contoh peradaban manusia yang menerapkan pembatasan ekstrem atas interaksi perempuan di lingkungan sosial (hal.35). Misalkan saja, mendasarkan pendapatnya pada studi Count Arthur Gobineau dalam Story of Civilization, pada masa Iran pra-Islam saat dinasti Sassanid berdiri, yang dimaksud hijab adalah penyembunyian total perempuan di dalam rumah. Tidak boleh ada interaksi dengan orang luar karena konteks masa itu, Raja Anushiravan beserta jajaran elite pemerintahannya gemar mencari perempuan untuk memenuhi hasrat seksual, tidak peduli tua muda, lajang atau sudah bersuami. Sehingga para lelaki mengurung istri maupun anak perempuannya. Ketika tradisi rusak bangsawan Sassanid ini berangsur hilang, Islam kemudian datang untuk memberikan pencerahan bahwa hijab bermaksud melindungi kehormatan perempuan di ranah publik.

Selain tinjauan historis, Muthahhari melandasi dukungannya terhadap hijab yang memanusiakan perempuan sesuai visi Islam dalam beberapa bab seperti alasan filosofis dan sosial (bab 1), alasan ekonomi, psikologis, dan etika (bab 2), dan bagaimana hijab membuat perempuan nampak berwibawa.

Secara keseluruhan, buku Teologi dan Falsafah Hijab yang sejatinya merupakan transkrip rangkuman ceramah Muthahhari di hadapan Ikatan Dokter Muslim Iran ini memiliki nilai lebih berupa bahasa yang mudah dipahami disertai contoh konkret serta analogi yang sederhana.

Di sisi lain, buku yang hingga 2014 ini sudah memasuki edisi cetak ketiganya, setidaknya menunjukkan bahwa kontennya masih tetap relevan dibahas untuk memberikan pencerahan bagi kalangan yang masih memperdebatkan kehadiran hijab dalam kehidupan sehari-hari, entah dari kelompok pendukung maupun penentangnya. (Fikri/Yudhi)

Scroll To Top