Tuesday , March 3 2015
Breaking News

Category Archives: Opini

Bijak dan Cerdas Hadapi Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia (2)

Data statistik dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang merujuk pada Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Bencana(UNISDR) menyebutkan bahwa untuk bencana tanah longsor, Indonesia menduduki peringkat pertama dari 165 negara, dengan jumlah korban manusia sebesar 197.327. Untuk banjir, Indonesia peringkat ke 6 dari 162 negara dengan jumlah 1.101.507 orang terkena dampaknya.

Rendahnya kualitas pengelolaan lingkungan dan pelanggaran tata-ruang wilayah/kota disertai ancaman perubahan iklim saat ini menjadikan wilayah/kota dalam tingkat yang rentan.

Suhu global yang meningkat setiap setengah derajat per tahun akibat perubahan iklim merupakan bencana dahsyat di dunia. Hal ini terus terjadi dengan cepat tanpa diimbangi upaya perbaikan alam yang konkret dan serius dari negara-negara maju sebagai negara penyumbang kerusakan iklim terbesar.

Upaya yang dilakukan untuk mengurangi kecepatan dan kekuatan laju perubahan iklim global yang diakibatkan oleh kegiatan manusia, berarti tidak pernah luput dari penanganan polusi karbon. Polusi yang dihasilkan industri juga menjadi salah satu penyebab perubahan iklim.

Saat ini, negara maju mengklaim tengah mengembangkan teknologi proses pembuangan dari industri yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun teknologi tinggi yang diupayakan dalam menangani perubahan iklim membutuhkan sumber daya yang tidak murah dan tidak mudah, itupun belum berpengaruh signifikan terhadap kerusakan alam yang terus terjadi akibat dampak perubahan iklim.

Ditambah lagi, faktor geopolitis dan kepentingan masing-masing negara, terutama negara maju seperti Amerika dan Eropa, belum memiliki satu kata mufakat yang tepat dalam mengatasi dampak dari perubahan iklim meski Protokol Kyoto tentang penanganan dampak perubahan iklim sudah disahkan pada 2004.

 Seperti diketahui sebelumnya, Protokol Kyoto dibuat sebagai wujud dari komitmen bersama dalam menjaga kestabilan konsentrasi Gas Rumah Kaca(GRK) di atmosfer. Hal ini untuk mencegah terjadinya dampak perubahan iklim.

Gas Rumah Kaca (seperti: CO2, CH4, N2O, HFCS, PFCS, dan SF6) dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil, mulai dari memasak sampai Pembangkit Listrik. Karena kegiatan tersebut sangat umum dilakukan manusia, maka seiring dengan meningkatnya populasi manusia, konsentrasi GRK meningkat. Akibatnya, semakin banyak sinar yang terperangkap di dalam bumi.

Perubahan iklim berubah secara perlahan tapi pasti. Suhu permukaan bumi pun memanas. Panas ini kita kenal sebagai pemanasan global.

Ide tentang penanganan kerusakan alam yang sudah digagas sejak tahun 1979, saat itu digelontorkan program yang dikukuhkan dan disepakati dalam bentuk perjanjian Internasional, yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.

Pemerintah Indonesia turut menandatangani perjanjian tersebut dan telah pula mengesahkannya melalui UU No.6 Tahun 1994. Mengingat lemahnya komitmen dan agar pelaksanaan konvensi lebih efektif, maka para Pihak (anggota) konvensi memandang perlu adanya komitmen lanjutan yang menekankan kewajiban negara industri menurunkan GRK yang diwujudkan dalam Protokol Kyoto.

Hasil dari Protokol Kyoto  periode kedua yang diterapkan pada 2013-2020, diyakini banyak pihak juga tidak dapat membawa perubahan apa-apa. Kerusakan kerap terjadi, bahkan lebih parah. Data statistik yang disusun UNISDR menjelaskan hal itu.

Baru-baru ini pemerintah Indonesia mengirimkan wakilnya untuk mengikuti Konferensi Internasional tentang dampak perubahan iklim di Peru pada bulan Desember 2014. Pada bulan yang sama di Indonesia terjadi bencana tanah longsor di Banjarnegara yang menghilangkan banyak nyawa, tanah longsor di Bogor yang memakan korban jiwa dan bencana serupa di kota-kota lain di Nusantara.

Pertanyaannya, apakah kerusakan berakibat bencana sporadis dan beruntun itu terjadi secara alamiah atau karena faktor kelalaian manusia? (Ben/Yudhi)

Ada Apa dengan Bahrain ?

Desember silam dunia internasional kembali digemparkan melalui berita penangkapan yang dilakukan oleh otoritas Bahrain terhadap seorang ulama muda yang kritis, Sheikh Ali Salman, dengan tuduhan terkesan dibuat-buat seperti “menyerukan perubahan politik menggunakan cara-cara melanggar hukum” serta “merencanakan kudeta terhadap pemerintahan yang sah.” Inilah episode terbaru dari serangkaian represi oleh monarki Al-Khalifa di negeri Teluk yang bergolak sejak dekade 1990 tersebut.

Sheikh Salman sebagai Sekretaris Jenderal gerakan oposisi Al-Wefaq yang dibentuk pada 2002 ditahan setelah mengadakan demonstrasi mengkritik parlemen selepas ibadah Jumat di ibukota Manama. Sayangnya, peristiwa penting ini tidak begitu terekspos pemberitaan. Di Indonesia sendiri gaungnya kalah dengan hingar bingar drama Cicak versus Penghuni Kebun Binatang.

Sebenarnya apa yang tengah terjadi di Bahrain? Benarkah seperti diberitakan selama ini, bahwa Bahrain dilanda konflik yang murni bernuansa sektarian antara Sunni-Syiah?

Lewat tulisan ini penulis mencoba menganalisis sedikit pertanyaan-pertanyaan di atas sekaligus memperkaya tulisan mengenai kisah perlawanan rakyat, di bawah tirani Raja Al-Khalifa yang jarang diperbincangkan di Tanah Air.

Sengaja Dikonstruksi

Selama ini media Barat seperti BBC cenderung menguatkan bahwa apa yang terjadi di Bahrain adalah murni konflik Sunni-Syiah. Memang fakta lapangan menunjukkan bahwa secara komposisi keagamaan, monarki Al-Khalifa beserta kroninya baik di tubuh elite birokrasi maupun militer didominasi kelompok Sunni.

Sedangkan di sisi lain, secara demografis mayoritas penduduk Bahrain adalah Syiah. Tidak dapat dipungkiri jika variabel perbedaan pandangan agama atau ideologi antara massa rakyat dengan elite yang memerintah bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya gejala deprivasi relatif (kondisi psikologis ketika rakyat sudah tidak percaya lagi akan legitimasi pemerintah berkuasa) hingga sampai pada taraf konflik terbuka.

Akan tetapi teramat naif jika kita hanya melihat perbedaan mazhab sebagai faktor tunggal penyebab bergejolaknya Bahrain. Pandangan simplistik semacam ini dapat menyesatkan. Sebab, dalam kajian akademik mengenai gerakan sosial, konflik terbuka antara massa rakyat yang teroganisasi dengan rezim pemerintah pastilah tidak hanya bersumber dari satu variabel saja. Ataukah, sebetulnya memang ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memunculkan aspek sektarian sebagai penyebab rentetan aksi demonstrasi di Bahrain?

Menarik untuk menyimak laporan tertulis Gregory Gause dalam buku antologi Quintan Wiktorowicz berjudul Aktivisme Islam: Pendekatan Teori Gerakan Sosial (2012). Reportasenya terhadap aksi protes pertama sepanjang 1994-1998 menunjukkan fakta bahwa isu sektarian hanyalah pemanis yang sengaja dikonstruksi rezim berkuasa via media agar masyarakat Bahrain maupun publik internasional terkecoh tanpa pernah mengerti apa sebenarnya akar masalahnya:

“Gangguan yang paling serius terkonsentrasi di kampung dan pedesaan Syiah. Mayoritas Syiah di pulau itu secara historis berada di bawah kekuasaan Khalifah yang Sunni (keluarga yang berkuasa), yang sejauh ini sangat pintar membingkai perlawanan politik dalam kerangka sektarian untuk memecah-belah gerakan oposisi. [Lebih dari itu], banyak warga Sunni Bahrain yang bersimpati pada reformasi politik telah dikesampingkan oleh kekerasan dalam komunitas-komunitas Syiah [yang menyertai pembangkangan].”

Berdasarkan pengamatan Gause tersebut, jelas sudah bagi kita bahwa sebetulnya ini bukanlah konflik sektarian seperti yang lazim digembar-gemborkan.

Apa yang sebenarnya terjadi adalah perlawanan rakyat tanpa memandang mazhab dan kelas sosial menuntut agar Al-Khalifa mengembalikan kedaulatan konstitusi serta menjamin hak sosial politik bagi seluruh warga negara. Jika ini murni persoalan perbedaan mazhab, maka sungguh absurd bila terdapat warga Sunni yang bersimpati dengan gerakan oposisi Al-Wefaq.

Terlebih berdasarkan wawancaranya dengan koresponden Press TV sebelum penangkapannya, Sheikh Ali Salman menyebutkan bahwa terdapat pula segelintir warga Syiah yang bekerja sebagai intelijen (mukhabarat) bagi rezim penguasa. Perlu dicatat bahwa berulang kali Al-Khalifa berikut kroninya mengingkari janji politik kepada masyarakat untuk melakukan reformasi.

Pada demonstrasi besar-besaran pada 2011, pemerintah mengatakan bakal melakukan perubahan. Nyatanya justru gelombang penangkapan maupun penjatuhan vonis mati terhadap warga sipil semakin meningkat.

Agar fakta jika Bahrain sedang dilanda krisis politik karena ulah Al-Khalifa sendiri yang otoriter dan tidak patuh pada konstitusi tidak terendus oleh publik dunia, maka seperti dicatat oleh Gause, pemerintah membingkai peristiwa ini dalam isu sektarian. Mulai dari kebijakan diskriminatif tidak membolehkan warga Syiah menduduki jabatan di pos militer dan pemerintahan, mempersulit akses mengenyam pendidikan, mengundang imigran asing dari Asia Tengah untuk dipekerjakan sehingga penduduk asli justru terasing di negerinya sendiri, serta sengaja memberikan akses istimewa bagi komunitas non-Syiah. Kesemua ini adalah upaya pemerintah mengadu domba masyarakatnya sendiri sehingga konsentrasi mereka untuk bersatu melawan kesewenangan rezim kian terpecah.

Rezim Al-Khalifa tidak rela melihat adanya persatuan lintas keyakinan yang berpotensi melemahkan legitimasinya sebagai penguasa Bahrain. Lewat adu domba seperti ini, Al-Khalifa hendak menyesatkan umat Muslim internasional dan semakin mengipas-ngipasi perbedaan mazhab sebagai sumber ketegangan. Cara ini mirip taktik kolonial Belanda lewat devide et impera untuk melemahkan perjuangan bangsa dalam melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

Akhirul kalam, setelah menemukan fakta lain dari krisis Bahrain yang rupanya dikonstruksi oleh rezim penguasa, pelajaran apakah yang bisa kita ambil untuk konteks Indonesia?

Jawabnya mudah saja: waspadalah dengan misi politis pihak tertentu yang tidak menyukai kerukunan antarumat dan doyan mempertajam aspek perbedaan. (Fikri/Yudhi)

Charlie Hebdo, Dieudonné dan Sinet

Tragedi penyerangan oleh 3 teroris terhadap majalah satir Perancis, Charlie Hebdo yang menewaskan 12 wartawannya dan 2 orang polisi yang sedang berjaga telah menjadi perhatian dunia karena mengisi hampir semua ruang surat kabar di seluruh dunia.

Dengan mengusung slogan “Free Speech” atau “Kebebasan Berbicara,” Charlie Hebdo membuat karikatur yang mengolok-olok Nabi Muhammad Saw. Hal tersebut tentu saja menyulut kemarahan Muslim di dunia yang sangat menaruh hormat dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Bahkan setelah penyerangan yang menewaskan 12 wartawannya, tidak menghentikan Charlie Hebdo untuk menerbitkan lagi karikatur Nabi Muhammad Saw pada edisi mingguannya Rabu ini (14/15). Dalam wawancara dengan France Info Radio, Richard Malka, pengacara Charlie Hebdo menegaskan bahwa “The Spirit of Charlie is The Right to Blasphemy,” yang dalam terjemahan bebasnya dapat berarti “Semangat dari Charlie adalah hak untuk menghujat”. Malka kemudian menegaskan bahwa makna dari tanda “Je Suis Charlie” bermakna “Anda memiliki hak untuk mengkritik agama saya, sebab itu tidak masalah.” Kemudian Malka menambahkan tidak seorangpun memiliki hak untuk mengkritik Yahudi, karena dia adalah seorang Yahudi, mengkritik Islam karena dia seorang Muslim, mengkritik Kristen karena dia seorang Kristiani.

Tapi, lanjut Malka, “Anda dapat mengatakan apapun yang anda mau, termasuk sesuatu yang sangat buruk tentang Kristen, Yahudi dan Islam, sebab di atas semua slogan itu, itulah fakta dari Chralie Hebdo.”

Dengan kata lain Charlie Hebdo mengusung kritik terhadap semua agama serta keyakinan bahkan dengan sesuatu yang paling buruk pun akan dilakukan oleh Charlie Hebdo, sebab mereka menaruh kebebasan berbicara tersebut di atas segalanya.

Dieudonné M’bala M’bala

Namun sayang apa yang dialami oleh Dieudonné M’bala M’bala (48), seorang komedian Perancis tidak sebaik perlakuan pemerintah Perancis pada Majalah Charlie Hebdo. Dieudonné terpaksa harus berhadapan dengan penyidik kepolisian Perancis karena statusnya di Page Facebooknya yang berbunyi “I feel like Charlie Coulibaly.”

Coulibaly adalah nama salah seorang teroris yang membunuh 4 orang sandera di Supermarket Kosher yang memiliki nama lengkap Amedy Coulibaly. Akibat status Facebooknya tersebut, Dieudonné harus mendapat tuduhan sebagai anti-semit atau anti Yahudi dan membela para teroris.

Hal ini bukanlah hal pertama yang dialami oleh Dieudonné, sebab setahun yang lalu, panggung komedinya telah dilarang oleh pemerintah Perancis akibat lawakannya mengolok-olok Holocaust. Dalam lawakannya dia menyindir presenter radio yang seorang Yahudi dengan menyatakan telah “mengingatkan dirinya tentang Kamar Gas pada peristiwa Holocaust.”

Pemeriksaan terhadap Dieudonné pun dilakukan Senin (12/1) lalu atas dasar hukum di Perancis yang melarang mendukung atau mendorong tindakan terorisme dan status milik Dieudonné dianggap telah bersimpati kepada pelaku teror daripada kepada korban teror itu sendiri.

Maurice Sinet

Tak jauh beda dengan apa yang dialami oleh Dieudonné, Sinet yang memiliki nama lengkap Maurice Sinet (80), salah satu kolomnis Charlie Hebdo yang memiliki nama pena Siné pada tahun 2008 menulis sebuah kolom yang mengatakan bahwa ke-Yahudi-an itu berkolerasi dengan kesuksesan sosial dan ekonomi.

Akibat tulisan di kolomnya tersebut Sinet akhirnya dipecat oleh Charlie Hebdo dan kemudian dituntut dengan dakwaan menebarkan kebencian dan dibawa ke pengadilan oleh sebuah organisasi anti rasis yang bernama Ligue Internationale Contre le Racisme et l’Antisémitisme (LICRA).

Pada Januari 2009, Sinet akhirnya menjalani pengadilannya tersebut. Dalam kolom yang ditulisnya Sinet menyebut Jean Sarkozy, anak dari Presiden Perancis pada masa itu yang pindah agama ke Yahudi untuk alasan finansial, termasuk juga pertunangan Jean Sarkozy dengan seorang gadis Yahudi bernama Jessica Seboun-Darty.

Editor Charlie Hebdo pada masa itu, Philippe Val meminta Sinet untuk memohon maaf, tapi Sinet menolak dan mengatakan bahwa “Saya lebih baik memotong kemaluan saya.” Pada akhirnya akibat dituduh anti-semit itulah Sinet dipecat dari Charlie Hebdo.

Standar Ganda Charlie Hebdo

Dari apa yang dikatakan oleh Richard Malka, pengacara Charlie Hebdo pada awal tulisan tentang kebebasan untuk berbicara ala Charlie Hebdo dan kenyataan yang dialami oleh Dieudonné dan Sinet menunjukkan bahwa slogan yang digembar-gemborkan oleh Charlie Hebdo hanyalah omong kosong belaka.

Fakta tak terbantah ini pun menunjukkan bahwa Charlie Hebdo, sebagaimana pihak Barat (dalam hal ini Eropa dan Amerika) selama ini telah menerapkan dan seringkali mempertontonkan standar ganda dalam kebijakan-kebijakan mereka terhadap negara dunia ketiga, termasuk kebijakan mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai terorisme itu sendiri.

Ditambah lagi munculnya gerakan solidaritas yang dilakukan oleh sejumlah pemimpin negara yang turun ke jalan untuk bersama-sama meneriakkan “Je Suis Cahrlie” dengan maksud menentang tindakan terorisme yang menimpa wartawan Charlie Hebdo beberapa hari terakhir ini. Bahkan di antara pemimpin negara yang tergabung dalam aksi tersebut terdapat Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, yang rezimnya pada Juli 2014 lalu nyata-nyata melakukan serangan ke sebuah pasar di wilayah Shijaiyah di timur kota Gaza dan menewaskan 17 wartawan. Bukankah fakta ini layak dijadikan bukti tambahan bahwa aksi protes yang dilakukan para pemimpin tinggi negara tersebut sejatinya hanya makin menampakkan kemunafikan mereka?

Lalu apa bedanya Free Speech atau kebebasan berbicara ala Charlie Hebdo dengan kemunafikan yang ditunjukkan Netanyahu dan kawan-kawannya?

Tentu saja kita mengutuk tindakan pembunuhan terhadap para wartawan Charlie Hebdo, namun bukan berarti kita mendukung penghinaan sarat standar ganda yang dilakukan oleh Charlie Hebdo selama ini.

Mengutuk tindakan Charlie Hebdo tidak harus dengan melakukan pembunuhan terhadap para wartawannya, namun bila masyarakat Perancis dapat turun ke jalan dan meneriakkan slogan “Je Suis Cahrlie” pasca kejadian yang menimpa wartawan majalah satir tersebut, mestinya masyarakat Perancis juga dapat melakukan hal yang sama terhadap apa yang menimpa kaum Muslim saat nabinya berulangkali dilecehkan. Demikian pula untuk Dieudonné dan Sinet.

Kecuali, jika ini semua memang tak lebih dari sandiwara kolosal yang sengaja dikreasi pihak Barat untuk lebih mendiskreditkan Islam dengan agenda-agenda terselubung di balik beragam peristiwa kontroversial dan sarat standar ganda. (Lutfi/Yudhi)

Hidup, Peka dan Berguna

Sebatang pohon singkong dapat tumbuh berdiri tegak menjulang ke atas. Ketika ‘rela’ dipotong-potong batangnya, lalu ditanam kembali ia akan tumbuh dengan tunas-tunasnya yang baru, dengan batang yang lebih banyak dan bercabang.

Dari situ dapat diambil sedikit gambaran mengenai kehidupan manusia yang rela ‘memotong’ atau memberikan apa yang ia punya untuk dikorbankan kepada orang lain yang membutuhkannya. Ia akan memperoleh imbalan berlipat dari apa yang diberikan. Sebagaimana janji Allah SWT yang akan melipatgandakan pahala dan kebaikan bagi hamba yang berjuang di jalan-Nya dan menginfakkan sebagian hartanya.

Tentu tidak mudah untuk mengorbankan apa yang kita punya untuk orang lain, sebagaimana tidak mudahnya pohon singkong yang mungkin menahan ‘sakit’ akibat dipotong bagian batangnya. Namun hal itulah yang kemudian menumbuhkan ‘tunas-tunas’ kebaikan yang kelak dapat dipetik hasil yang lebih besar.

Logikanya begini, ketika saat ini kita hanya bisa membantu meringankan beban satu orang, dan kita rela membantunya, kelak kebaikan kita akan berlipat ganda sebagaimana janji Allah SWT. Kebaikan dapat berupa apa saja termasuk harta benda. Dari situ kemudian kita akan membantu lebih banyak lagi kepada lebih banyak orang. Begitulah gambaran ‘tunas’ kebaikan yang akan selalu tumbuh dan berkembang. Tentu itu hanya dapat dilakukan dengan niat dan tekat yang kuat.

Makin Banyak Milik, Makin Banyak Beban

Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mungkin ada saatnya akan kita temui masa ketika kita harus mengungsi dari tempat persinggahan. Semuanya akan berjalan menuju tempat kehidupan yang baru, entah dimana. Semua orang berjalan berbondong-bondong membawa barang bawaannya. Yang miskin tak membawa apa-apa, yang kaya membawa barang sebanyak-banyaknya. Yang miskin akan berjalan ringan dan cepat, yang kaya akan berjalan berat dan lambat karena beban bawaannya. Hal itu juga menjadi gambaran pertanggungjawaban hamba kepada Tuhan-Nya di akhirat kelak, saat Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban setiap hamba terhadap apa yang dimilikinya baik harta-benda, ilmu dan sebagainya.

Dengan membantu orang lain, dan memberikan apa yang kita punya, otomatis akan membantu meringankan pertanggungjawaban kita kepada Allah SWT kelak, selain pahala dan kebaikan yang akan kita dapat.

Daya Adaptasi dan Peka Lingkungan

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membantu orang lain. Namun, agar tepat sasaran kita harus mampu beradaptasi dan peka terhadap lingkungan. Sebab, setiap orang tidak hanya membutuhkan bantuan dalam materi melainkan juga non materi seperti ilmu, dan sebagainya.

Banyak orang kaya, pandai, cerdas dan pintar, sementara lingkungan sekelilingnya  banyak orang miskin, bodoh, dan buta huruf. Hal itu dapat kita pahami sebagai belum adanya pemerataan sosial. Bisa karena pemerintah abai terhadap ketimpangan itu, bisa juga karena tidak adanya semangat kepedulian terhadap sesama. Kurangnya adaptasi dan kepekaan si kaya terhadap kehidupan si miskin menjadi seperti dua tebing yang tidak terhubung oleh jembatan.

Tunas Kemiskinan

Jika ada orang tua yang buta huruf, tak memiliki uang untuk menyekolahkan anaknya, tak mampu mengajari membaca karena ia sendiri tak bisa membaca, lalu bagaimana anaknya bisa lebih baik dari orang tuanya? Ini banyak terjadi di Indonesia kita.

Bagaimana Indonesia ke depan jika masih banyak anak muda ‘tunas’ bangsa tak bisa membaca? Sementara negara ‘abai’ dan si kaya diam saja.

Teringat waktu itu ada seorang anak SMP sedang menghadapi ujian sekolah dalam keadaan memiliki tunggakan pembayaran buku, dan SPP. Sementara, orang tuanya sakit dan tidak bekerja. Bagaimana ia bisa belajar dengan tenang dalam kondisi seperti itu?

Fakta lain pernah muncul dalam sebuah tayangan di televisi, anak sekolah di daerah pedalaman ketika ditanya siapa presidennya, ia tidak tahu. Ini ironis. Dan terjadi di era modern saat ini.

Seperti rumput ketika didiamkan saja akan berkembang menjadi semak-semak yang akan mengganggu pemandangan dan merusak pohon produktif lainnya. Sebagai gambaran ketika ‘tunas’ kemiskinan dan kebodohan di Indonesia di biarkan saja, justru akan menjadi beban negara, penghalang pembangunan dan sebagainya. Semua itu dapat dilihat kasat mata; pedagang kaki lima menjamur, pengemis dan pengamen dimana-mana. Sementara pemerintah hanya memberi solusi dengan penggusuran, penangkapan dan sebagainya. Tentu akan lebih manusiawi ketika mereka dicerdaskan sejak awal dan dihindarkan dari belenggu kemiskinan.

Efek buruk lain adalah meningkatnya tindak kejahatan berupa pencurian, perampokan bahkan berujung pembunuhan. Hal itu dapat dipahami ketika seorang putus asa atas kehidupannya ia dapat melakukan apa saja. Siapa yang menjadi korban? Tentu mereka, kaum yang “berpunya.” Seorang perampok hanya akan merampok sesuatu yang dianggapnya berharga, dan sesuatu yang berharga lebih identik dan dekat dengan orang ‘kaya’.

Padahal kejadian semacam itu dapat dihindari asal saja pemerintah dan masyarakat lebih peka dan peduli terhadap perbaikan kondisi lingkungan dan perbaikan taraf hidup warganegaranya. (Malik/Yudhi)

 

Musibah; antara Proses dan Ulah Manusia

Di penghujung 2014 kita dikejutkan oleh serentetan bencana. Yang terbaru adalah longsor dan pesawat komersil yang hilang sejak beberapa hari lalu dan baru dipastikan jatuh beberapa saat lalu.

Ada bencana yang di luar jangkauan manusia, seperti gempa bumi, meluapnya lumpur panas, banjir, longsor dan sebagainya, meski secara vertikal bermuara pada cara pengelolaan manusia terhadap alam. Ada bencana yang terjadi semata-mata akibat pengelolaan yang teledor terhadap alam, seperti kecelakaan transportasi dan kebakaran  bisa dikategorikan sebagai bencana non alami.

Apapun penyebabnya, setiap kali terjadi musibah, kita harus mengaitkannya dengan Sumber Kehidupan. Orang-orang Mukmin, dalam firman Allah, adalah “orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
 
Namun, itu tidak berarti tidak ada yang bisa diminta pertanggungjawaban dan bahwa setiap bencana harus disikapi secara fatalistis. Mengapa? Setiap peristiwa pada mata rantai sebab terakhir berujung pada Tuhan, sebagai Kausa Prima, namun ia juga berkaitan dengan sejumlah kausa dekat yang lain, seperti manusia dan lainnya. Artinya, Tuhan sebagai pencipta alam memang sebab terakhir, namun manusia dan makhluk lain juga bisa masuk dalam rangkaian sebab. Pada rangkaian sebab yang paling dekat dengan bencana dan peristiwa inilah, diperlukan analisis, perencanaan dan cara penggunaan yang benar.
 
Manusia dalam kehidupannya menghadapi semua kemungkinan dan aksiden. Allah Swt melimpahinya dengan aneka karunia dan rezeki, juga memberinya ragam kesulitan dan bencana sebagai ujian dan cobaan. “Dan niscaya Kami mencobanya dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah, dan kepada Kami kalian dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35). Ayat ini menegaskan bahwa semua yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, yang baik dan yang buruk, adalah bagian dari proses ujian.
 
Keburukan adalah sesuatu yang diyakini manusia sebagai kebaikan, demikian pula keburukan. Allah Swt menguji manusia dengan sesuatu yang dianggapnya buruk. Padahal apakah itu memang keburukan secara real ataukah tidak, memerlukan penjelasan yang lebih mendalam. Artinya, apa yang dianggap baik atau buruk oleh manusia tidak niscaya baik dan buruk pada hakikatnya.
 
Sakit, misalnya, adalah bencana yang dianggap oleh manusia sebagai buruk, padahal itu hanyalah keburukan yang relatif, bukan mutlak. Betapa banyak penyakit yang memberikan banyak keuntungan bagi penyandangnya. Betapa banyak penyakit kecil yang menguak penyakit kronis dalam tubuh penyandangnya, yang tidak akan diketahui dan disembuhkan, bila saja ia tidak diperiksa karena gangguan penyakit ringan itu. Kata ‘fitnah’ dalam ayat di atas adalah penegasan bahwa yang dianggap baik dan buruk itu semata-mata ujian.
 
Lalu, bencana apakah yang bisa menjadi penghimpun pahala? Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. Al-Baqarah [2]: 214). Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa bencana alam merupakan bagian yang terpisahkan dari proses kehidupan alam dan manusia.
 
Ujian juga dapat dibagi dalam dua dimensi, ujian untuk dunia dan ujian untuk akhirat. Ujian di dunia mestinya dapat mengembangkan kemampuan manusia untuk menghadapi tantangan hidup, yang membuatnya mampu bertahan hidup dan mengatasi masalah. Karena terdesak oleh banyak kesulitan alam itulah, manusia mampu menciptakan alat-alat transportasi dan menciptakan ilmu kedokteran dan lainnya.
 
Ada dua jenis manusia yang menghadapi realitas; Pertama adalah manusia yang tidak berinisiatif mengatasi masalah kecuali bila sangat mendesaknya. Manusia jenis pertama ini akan memikirkan jalan keluar setelah merasa putus asa dan tidak mampu menanggungnya. Kedua adalah manusia yang berpikir untuk menyelesaikan masalah bahkan sebelum terjadi. Manusia jenis ini melakukan antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang akan dihadapinya. Kemungkinan terjadinya persoalan cukup menjadi alasannya untuk memikirkan dan mencari solusi.
 
Manusia tidak akan abadi dalam kehidupan ini, namun akan abadi dalam kehidupan berikutnya. Demi meraih kehidupan abadi yang menyenangkan, manusia harus mau lulus ujian-ujian berat dengan sabar.

Sabar adalah sikap menerima dengan ikhlas sesuatu yang dianggap merugikan. Ada dua jenis perkara yang dianggap merugikan, yaitu sesuatu yang berada di luar kehendak, dan sesuatu yang berada dalam kendali kehendak. Seperti kata Al-Quran, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (TQS. Ali ‘Imran [3]: 186)
 
Bila kita tidak sabar saat menghadapi persoalan, dan bisa selesai karena ketidaksabaran itu, maka semestinya kita memang tidak boleh bersabar. Namun, bila dengan tidak bersabar, masalahnya tidak terselesaikan bahkan makin membesar, maka bersabar adalah jalan keluar. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQS. Al-Zumar [39]: 10)
 
Tapi, adakah batas kesabaran? Apabila sabar dipahami sebagai sikap pasif terhadap persoalan, maka itu adalah pemahaman yang salah dan harus diluruskan. Bersabar bukan membiarkan persoalan tanpa solusi, karena bukan itu yang ditetapkan akal dan agama. Bersabar secara logis adalah mengantisipasi dan mengatasi persoalan, bukan hanya bersabar menerimanya. Itulah kesabaran positif dan aktif.

Terlepas dari itu semua, korban musibah bukan hanya yang wafat dan hilang tapi juga orang-orang yang kehilangan terutama para istri, anak dan orangtua korban. Yang hilang hanya beberapa saat menderita bahkan kadang hanya sedetik. Tapi yang kehilangan bisa merasakan derita cukup lama.

Karena itu, pergantian tahun tak perlu dirayakan dengan lomba kebisingan dan hura-hura tapi sebaiknya ditandai dengan himne duka dan pengheningan cipta. Mari tunjukkan empati kemanusiaan dan kebangsaan. (Muhsin Labib/Yudhi)

Scroll To Top