Tuesday , September 30 2014
Breaking News

Category Archives: Opini

Soekarno (Bag.7)

Proklamasi di depan rumahProklamasi

Bung Karno dan Bung Hatta tiba kembali di Jakarta tanggal 14 Agustus 1945, satu hari sebelum Kaisar Hirohito menyatakan “Menyerah Kalah Kepada Sekutu”. Setiba di rumahnya di  Jl. Pegangsaan Timur 56 (Sekarang Jalan Proklamasi) telah berkumpul beberapa orang pemuda, dan menanyakan apa intruksi dari Bung Karno.

Tetapi keesokan malamnya, tanggal 15 Agustus, sejumlah pemuda datang lagi, dan mendesak Bung Karno supaya memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia malam itu juga. Namun sebelumnya, Bung Karno sudah menentukan hari Kemerdekaan sendiri yaitu tanggal 17 Agustus 1945. Bung Karno yakin tanggal 17 Agustus 1945 itu, adalah hari keramat. Ia jatuh pada hari jum’at legi. Al-Qur’an diturunkan 17 Ramadhan. Orang Islam sholat 17 rakaat.

Ternyata pada malam itu juga, sekitar pukul tiga menjelang subuh, para pemuda itu datang lagi. Bung Karno serta Bung Hatta diculik dan dibawa ke Rengasdengklok, dimana ada pasukan PETA bertugas.

Seharusnya tanggal 16 di pagi hari, sidang PPPKI dilaksanakan, untuk menyusun naskah Proklamasi. Para anggota PPKI tidak dapat menyelesaikan naskah itu, karena Bung Karno belum hadir. Oleh karena itu anggota PPPKI mendorong Ahmad Subardjo supaya mencari Bung Karno dan Bung Hatta. Dan memang benar-benar Bung Karno-Bung Hatta sore itu tanggal 16 Agustus sudah tiba di Jakarta, atas bantuan Laksamana Maeda.

Konsep teks proklamasi adalah apa yang ditulis oleh Bung Karno, yang kemudian diketik oleh Sayuti Malik. Seusai sidang PPPKI dilaksanakan, Bung Karno pulang ke rumahnya. Ia tidak langsung tidur, walau Malarianya sudah mulai kambuh lagi. Bung Karno menulis berpupuh-puluh surat yang ditujukan kepada kawan-kawan sepergerakan, memberi nasehat dan petunjuk, apa yang harus dilakukan setelah proklamasi dilakukan. Ada yang mendapat tugas di bidang pertahanan, ada yang bertugas mengatur pemerintahan sipil, pembentukan komite kemerdekaan daerah di setiap kota, dan lain-lain.

Pada jam tujuh pagi keesokan harinya, yaitu tanggal 17 Agustus 1945, sekitar seratus orang lebih berkumpul di halaman rumah kediaman Bung Karno. Mereka datang berbondong-bondong membawa bambu runcing, skop, tongkat, parang atau golok, dan apa saja yang bisa dijadikan senjata. Dengan cara ketuk tular, orang-orang ini sudah tahu, bahwa pagi hari ini, Bung Karno mengumumkan Kemerdekaan.

Bung Karno memulai pidato pertamanya tanggal 17 Agustus 1945 yang antara lain berkata:

“Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tapi pada hakekatnya tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita mengambil nasib bangsa dan tanah air dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan berdiri dengan kuatnya.”

Kemudian Bung Karno membacakan teks Proklamasi, persis tanggal 17 Ramadhan, dan 17 Agustus 1945. Proklamasi ini di samping didengarkan seluruh rakyat Indonesia, ialah juga ditujukan kepada seluruh dunia.

Proklamasi 17 Agustus ini tidak dilaksanakan dalam upacara seremonial, tidak merupakan pesta kemegahan, karena memang semuanya masih dalam darurat dan siap tempur. Fatmawati menjahit sendiri bendera Merah Putih (sekarang di perbendaharaan istana Negara), dan seorang pemuda memotong bambu untuk tiang bendera, dan Latief Hendraningrat seorang Perwira PETA menaikkan Bendera, diiringi lagu Indonesia Raya oleh semua yang hadir.

Proklamasi dengan segala kelengkapan dan kesahajaannya, sudah berlangsung. REVOLUSI SUDAH DIMULAI! (Malik)

Bersambung…

Soekarno (Bag. 1)Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 3)Soekarno (Bag. 4)Soekarno (Bag. 5)Soekarno (Bag. 6)

Soekarno (Bag. 6)

Bung Karno dan Bung HattaRuntuhnya Kekuasaan Jepang

Perhitungan Bung Karno-Hatta bahwa Jepang tidak akan bertahan lama dalam perang Pasifik mulai tampak, dengan jatuhnya wilayah strategis yang direbutnya di pertengahan tahun 1944.

Sejak awal pendudukan, pemerintah Jepang telah mulai merencanakan untuk memberi latihan militer kepada penduduk Indonesia. Maksudnya, penduduk yang diberi latihan militer itu, untuk mempertahankan negeri Indonesia, dari serangan musuh Jepang. Dengan begitu, kepentingan Jepang untuk menjajah Indonesia terus berlanjut. Maka sejak bulan April 1943 pemuda Indonesia mulai direkrut untuk jadi “pembantu – serdadu Jepang” yang diberi nama Heiho, yang secara struktur berada di bawah militer Jepang.

Tanggal 1 April 1945, tentara sekutu mendarat di Okinawa, Jepang. Kemudian menyerahnya Jerman kepada Sekutu tanggal 7 Mei 1945, mendorong pemerintah Jepang melantik Badan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Kemudian tanggal 29 Mei 1945 pelantikan itu dilakukan sekaligus dilangsungkan sidang pertama di bawah ketuanya Dr. Rajiman Wedyodiningrat.

Lahirnya Pancasila

Dari sidang BPUPK tersebut muncul beberapa gagasan untuk menentukan Dasar Negara Indonesia Merdeka. Ada yang melontarkan konsep Negara-negara Eropa, ada juga yang mengemukakan konsep Negara Islam. Kemudian setelah tiga hari sidang berjalan, hari ke empat yaitu tanggal 1 Juni 1945 Bung Karno dapat menyampaikan pemikirannya. Dari pidatonya pada waktu itu, kemudian dikenal dengan pidato “Lahirnya Pancasila”. Setelah itu dibentuklah panitia 1 Juni yang bertugas merumuskan pidato Bung Karno menjadi Preambule bagi Undang-Undang Dasar. Kemudian tanggal 21 Juni 1945 dibentuk “Panitia Sembilan” yang diketuai Bung Karno dan keesokan harinya, 22 Juni 1945, berhasil menyusun “Piagam Jakarta”. Dari situlah persiapan dinyatakan telah mencapai tingkat kesempurnaan.

Pada tanggal 29 Juli, Pemerintah Jepang di Tokyo sudah menyetujui tentang kemerdekaan Indonesia itu dan akan menentukan tanggal pengumumanya. Setelah itulah, Bung Karno- Hatta diundang oleh pihak Jepang untuk membicarakan hal yang kemudian dicapai kesepakatan, Jepang menyerahkan proses kemerdekaan sepenuhnya kepada Indonesia. Untuk itu, PBUPK disatukan menjadi panitia persiapan kemerdekaan Indonesia ( PPKI).

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, Bung Karno, menyatakan keyakinannya kepada Bung Hatta, bahwa Indonesia siap merdeka. Syarat  berdirinya suatu  Negara, ialah adanya wilayah atau tanah air, adanya rakyat dan adanya pemerintahan berdaulat. Lalu menurut hukum internasional, adanya pengakuan dari Negara lain. Bung Hatta sepenuhnya setuju dengan apa yang dikemukakan Bung Karno. (Malik/Ahmad)

Bersambung…Soekarno (Bag. 7)

- Soekarno (Bag. 5)Soekarno (Bag. 4)Soekarno (Bag. 3) Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 1)

Soekarno (Bag.5)

bung-karnoMenghadapi Jepang

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya oleh Bung Karno tentang perang Pasifik, perang itu benar terjadi dan Belanda berhasil ditakhlukkan oleh Jerman. Namun, terlibatnya Jepang dalam perang dunia II yang telah berkobar di Eropa itu manjadi  permasalahan baru bagi rakyat-rakyat Asia terutama berdampak bagi rakyat Jajahan.

Sasaran pendaratan Jepang adalah Palembang. Tak berselang lama setelah Jepang sampai di Padang, dengan tempo singkat dapat mengalahkan pasukan Belanda dan pada tanggal 7 Maret 1942 wilayah Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang.

Setelah itu, pihak Belanda ingin membawa Bung Karno ke Australia melalui Padang, Sesampainya di Padang, kapal yang hendak membawa Bung Karno meledak terkena bom Jepang. Setelah itulah Soekarno ditinggalkan oleh pihak Belanda di Padang.

Melihat suasana kota Padang yang tidak lagi stabil lantaran pendudukan Jepang, Bung Karno berusaha membangun sebuah organisasi masyarakat yang nantinya bisa berunding dengan tentara Jepang. Setelah masuk kota, kebetulan ada sebuah organisasi kecil, yaitu organisasi pedagang. Bung Karno menemui ketuanya lalu menganjurkan supaya ketua organisasi pedagang itu mengadakan rapat umum di lapangan. Dalam rapat ini Bung Karno berhasil membentuk apa yang disebut “Komando Rakyat,” yang oleh Bung Karno diberikan tugas sebagai pemerintah sementara dan untuk menjaga ketertiban.

Pindah ke Jakarta

Kesuksesan yang dilakukan Bung Karno di Padang tidak bertahan lama dalam mengendalikan kekerasan yang sangat mungkin terjadi akibat rakyat Indonesia yang bersikap memusuhi Jepang dan dari pihak Jepang sendiri yang cenderung bertindak kasar. Sebab, otoritas Jepang menghendaki Bung Karno segera dikirim ke Jakarta.

Setibanya di Jakarta, ia dijemput Anwar Cokroaminoto, Hatta dan Sartono sahabat lama sekaligus teman perjuangan Bung Karno. “Hatta berbisik, ‘bagaimana pendapat Bung Karno mengenai pendudukan ini?’ aku membisikkan kembali, ‘jepang tidak akan lama disini’. Mereka akan kalah dan kita akan menghancurkan mereka. Inipun asal kita tidak menentang mereka secara terang-terangan”.

Keesokan harinya, Bung Karno menemui Jenderal Imamura, Panglima Tentara Darat Jepang ke XVI, di bekas Istana Gubernur Jenderal untuk membicarakan beberapa hal. Kemudian pada bulan Maret 1943, Jepang menugaskan Bung Karno menyusun organisasi yang akan menyalurkan bantuan riil kepada Jepang dalam “Perang Asia Timur Raya.” Organisasi ini diberi nama PUTERA, yaitu kepanjangan dari Pusat Tenaga Rakyat. Salah satu tugasnya ialah membangkitkan semangat rakyat agar membenci Amerika, Inggris, dan Belanda.

Melalui Putera, Bung Karno dapat berkomunikasi aktif dengan rakyat. Dalam upayanya mendeskriditkan pasukan Sekutu, Bung Karno melontarkan slogan:

“Awaslah Inggris dan Amerika, musuh seluruh Asia, Inggris kita linggis, Amerika kita Setrika.”

Kerja Paksa

Walau di satu sisi Indonesia memiliki kepentingan yang sama dengan Jepang untuk memusuhi Belanda, Amerika dan Inggris, namun Jepang sendiri dalam pendudukanya di Indonesia melakukan banyak kekejaman terhadap rakyat Indonesia. Yang paling terkenal adalah ROMUSHA, yaitu sistim kerja paksa yang menyebabkan lebih dari lima juta rakyat Indonesia dipaksa bekerja untuk Jepang, dan dari situ sepertiga diantaranya meninggal karena keteraniayaan.

Salah satu akibat dari Romusha itu, lima orang mahasiswa Fakultas Kedokteran mendatangi Bung Karno. Mereka menggugat Bung Karno yang diindikasikan terlibat merekrut Romusha tersebut. Gugatan itu mengakibatkan Bung Karno tidak lagi dipercaya oleh rakyat. Terhadap gugatan itu, Bung Karno menjelaskan: “Bahwa ia harus memilih salah satu dari dua jalan. Jalan pertama bersifat Revolusioner yang telah ditunjukan oleh Peta dalam pemberontakan di Blitar. Kenyataanya, jalan pertama belum siap. Pemberontakan tersebut dapat dipadamkan Jepang dengan mudah. Jalan kedua secara taktis bekerjasama dengan pihak Jepang, sambil mengkonsolidasi kekuatan. Inilah pilihan Bung Karno. (Malik)

Bersambung…Soekarno (Bag. 6) - Soekarno (Bag. 7)

- Soekarno (Bag. 4)Soekarno (Bag. 3) Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 1)

Soekarno (Bag. 4)

Kembali ke Gelanggang

Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, Bung Karno bertekad untuk membenahi PNI serta menggalang persatuan kembali. Sayangnya, saat Bung Karno keluar dari penjara, PNI sudah dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang oleh penguasa Belanda.
Tidak lama berselang, Bung Karno gabung dengan Partindo (Partai Indonesia) yang didirikan teman-teman Bung Karno saat di PNI. Dari situlah, Bung Karno mulai melakukan pergerakan lagi. Pengawasan terhadap Bung Karno oleh Belanda pun diperketat. Untuk menghindarinya, Bung Karno pergi ke sebuah desa bernama Pangalengan di Jawa Barat, sekitar Maret 1933, dimana Bung Karno menulis risalah yang beliau sebut judulnya “Mancapai Indonesia Merdeka’’ (MIM). Isi pokok risalahnya adalah bagaimana cara-cara paling mungkin untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Risalah MIM dianggap oleh pihak Belanda sangat mengganggu kekuasaan mereka, sehingga pemerintah Belanda menyatakan “Terlarang atas peredaran buku MIM.” Risalah tersebut dicari kemana saja, baik oleh pengikut-pengikut Bung Karno, maupun oleh pihak Belanda. Jika orang Indonesia yang ingin mencari buku MIM karena ingin mengetahui isinya, sedangkan pihak Belanda ingin menemukanya untuk dimusnahkan. Pihak Belanda pun mengerahkan pasukan untuk menggeledah rumah-rumah warga, dan jika didapati buku tersebut, kepala rumah tangga akan ditahan untuk dimintai keterangan.

39Penangkapan Kedua Bung Karno

Tak berselang lama, Bung Karno ditangkap untuk kedua kalinya. Ia dikembalikan ke penjara Sukamiskin selama delapan bulan. Tanpa diadili, pihak Belanda mengasingkan Bung Karno ke suatu tempat terpencil di desa Endeh, Flores.
Secara rahasia, Bung Karno dikeluarkan dari Sukamiskin, dimasukkan gerbong kereta khusus menuju Surabaya. Tujuan akhirnya adalah pulau Bunga di Flores. Sesampainya di Surabaya, Bung Karno dimasukkan ke dalam sel, di sel itulah kemudian orang tua Bung Karno , yaitu pak Sukemi dan ibu Idayu sempat menjenguk Bung Karno. Sukemi yang mengharapkan putranya Bung Karno menjadi seorang Karna seperti pahlawan dalam Mahabarata, menangis tersedu menyaksikan putranya itu.
Sementara, Ibu Idayu, sembari melinangkan air mata tetap berusaha menghibur puteranya agar tetap semangat, dan dengan caranya yang khas membisikkan, “Sudah suratan takdir bahwa Soekarno menyusun pergerakan yang menyebabkan ia dipenjarakan, lalu dibuang dan kemudian dia akan membebaskan kita semua. Soekarno bukan lagi kepunyaan orang tuanya, sudah menjadi kepunyaan rakyat Indonesia. Kami mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan kedaan ini.”
Keesokan harinya, Bung Karno dibawa ke pelabuhan. Walau dirahasiakan, akan tetapi rakyat sempat tahu, dan mereka berjejal sepanjang jalan menuju pelabuhan, sambil melambaikan bendera Merah Putih.

Masa Pembuangan

Pembuangan Bung Karno ke pulau Bunga pada tahun 1934 ini adalah atas dasar bahwa Bung Karno adalah orang yang membahayakan bagi pemerintah Hindia Belanda. Sikap tidak ramah ditunjukan penduduk Endeh, Flores terhadap kedatangan Bung Karno. Namun Bung Karno memahaminya lantaran sebab, rakyat sudah dipropagandai oleh pihak Belanda yang mengatakan bahwa Bung Karno adalah orang jahat.
Namun, dengan berbagai cara dan pendekatan, perlahan masyarakat mulai menampakkan keramahanya kepada Bung Karno. Di pembuangan itu pula, Bung Karno banyak belajar dan berkarya. Walau dalam pengasingan, Bung Karno tak lepas dari pengawasan dari pihak keamanan Belanda.
Sempat juga Bung Karno ketika itu ditawarkan untuk melarikan diri oleh stoker kapal, namun Bung Karno menolaknya. Ia memiliki pendirian bahwa, “bergerak secara tersembunyi dan rahasia, bukanlah cara Soekarno. Bergerak untuk perjuangan kemerdekaan, tidak mungkin dilakukan secara rahasia.”
Setelah hampir lima tahun di Endeh, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu, Sumatra Selatan. Pemindahan tersebut terjadi setelah MH. Thamrin protes kepada Kolonial Belanda karena di Endeh Bung Karno terserang penyakit Malaria. (Malik)

Bersambung…Soekarno (Bag. 5) - Soekarno (Bag. 6)Soekarno (Bag. 7)

- Soekarno (Bag. 3) Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 1)

Soekarno (Bag. 3)

0b3a9-soekarno_1959Mewujudkan Fikiran Dalam Gerakan Konkrit

Setelah lulus dari THS (ITB sekarang), Soekarno mulai merumuskan apa yang yang ia analisa ke dalam tulisan “Nasionalisme, Islamisme, Marxsisme.” Dalam tulisan tersebut, Soekarno meyakini bahwa seluruh aliran politik yang ada di Indonesia dapat dipersatukan. Setelah menyelesaikan studinya, Soekarno benar-benar membulatkan tekad untuk terjun langsung ke dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Pertumbuhan organisasi politik Soekarno di mulai dengan mendirikan Algemeene Studie Club yang didirikan di Bandung. Perkumpulan studi ini berkembang dan mempunyai cabang di beberapa kota di Jawa. Perkumpulan ini juga menerbitkan Majalah “Suluh Indonesia Muda” sebagai media pertukaran fikiran antar anggota organisasi, selain untuk menyampaikan pemikiran terhadap rakyat banyak.

Pada tanggal 4 Juli 1927 (umur Soekarno 26 tahun), Soekarno mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Taka setelah itu, pada tahun 1928 PNI dirubah menjadi Partai Nasional Indonesia yang memiliki program “Indonesia Merdeka Sekarang”. Hadirnya PNI dan program kemerdekaanya, menjadikan Pemerintahan Kolonial sangat marah dan berupaya dengan segala cara menghancurkan Soekarno dan membubarkan PNI. Mulai saat itulah Pihak keamanan Belanda mulai memata-matai Soekarno, bahkan menguntitnya hingga ke desa-desa yang selalu didatangi Soekarno untuk menyampaikan pidatonya kepada rakyat.

Soekarno dalam usahanya menyadarkan rakyat, menggunakan bahasa yang sederhana, yang gampang dicerna oleh rakyat lapisan bawah, dengan gaya yang amat menarik, yang belakangan disebut orang ‘Retorik’.

Revolusi Budaya

Dalam pembicaraanya antar kawan sesama pimpinan partai, Soekarno biasa dipanggil dengan sebutan “Bung” begitu juga Soekarno memanggil kawan-kawanya. Saat itu Soekarno menilai, bahasa Indonesia hanya dipakai kaum ningrat saja, sebab itulah revolusi budaya ia canangkan. Dari situ bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan yang dipakai siapa saja, oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ketika itu, Soekarno merasa perlu adanya rangkaian sebutan lengkap … disaat itulah dikembangkan sebutan Pak, atau Bapak, Bu atau IBU dan Bung yang berarti saudara. Di jaman Revolusi Kebudayaan inilah Soekarno mulai dikenal sebagai Bung Karno.

Penangkapan Pertama Bung Karno

Pendirian PNI dan dan terjadinya Sumpah Pemuda yang di Sponsori Bung Karno dinilai Belanda sangat berbahaya. Sebab, dalam kongres itu sudah dicapai Sumpah Pemuda dengan tiga unsur pokok yang amat kuat mempersatukan seluruh rakyat Indonesia, menjadi bangsa Indonesia.

Walau pihak Kolonial Belanda sangat mengawasi kegiatan Bung Karno, tapi Bung Karno tidak gentar untuk terus menggembleng masa rakyat, untuk menghidupkan semangat mereka agar sadar sebagai satu bangsa dan memiliki kemauan untuk merdeka.

Bung Karno dalam menggembleng masa rakyat, juga mengadakan penilaian atas perkembangan Internasional. Pada bulan Desember 1929 itu muncul issue tentang kemungkinan terjadinya Perang Dunia II setelah Pada tahun 1918 Perang Dunia I berakhir. Issue itu dijadikan Bung Karno sebagai momen yang baik untuk dijadikan pembangkit semangat rakyat. Maka dalam pidato tanggal 29 Desember 1929 di dekat Yogyakarta, Bung Karno berkata:

“… imperialis, perhatikanlah! Apabila dalam waktu tidak terlalu lama lagi perang pasifik menggeledek dan menyambar-nyambar membelah angkasa, apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Samudra Pasifik menjadi merah oleh darah dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, maka disaat itulah rakyat Indonesia melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan menjadi Negara merdeka.”

Pidato Bung Karno tersebut yang kemudian dijadikan alasan pihak Belanda melakukan penangkapan terhadap dirinya dan beberapa pimpinan PNI. Bung Karno dianggap telah melanggar Undang-undang tentang penghasutan kepada rakyat atas pidatonya tentang “issue Perang Pasifik”. Meski di kemudian hari, penangkapan itu sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya oleh pihak Belanda.

Mereka kemudian dimasukkan ke penjara Banceuy, di ruang yang berbeda-beda. Selain ruang penjara yang kotor dan tanpa jendela, ruang penjara yang disediakan hanya berukuran lebar 1,5 meter dan panjang 2 meter. Pergerakan nasional pun seperti dalam keadaan jeda, dan tokoh-tokoh nasional berpikir dua kali untuk melakukan aksi, agar terhindar dari penangkapan.

Setelah melalui pengadilan dan dijatuhkanya vonis 4 tahun penjara terhadap Bung Karno, ia kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Di rumah penjara ini Bung Karno berkontemplasi menyelami dirinya dan hubunganya dengan dunia, lalu mengambil kesimpulan: “Aku membiasakan diriku untuk menyadari bahwa cita-cita yang besar datangnya dari saat-saat yang sepi,…” (Malik)

Bersambung… Soekarno (Bag. 4)Soekarno (Bag. 5) Soekarno (Bag. 6) - Soekarno (Bag. 7)

- Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 1)