Monday , October 20 2014
Breaking News

Category Archives: Opini

Takfiri dan virus berbahaya 

Oleh: Abdillah Husain*

Takfiri ini, sesuatu kelompok yang bersifat radikal, arogan, dan semua sifat buruk maupun tidak pantas, ada pada nya.  Takfiri melahirkan virus-virus yang berbahaya. Virus tersebut tidak dapat dihilangkan oleh sembarangan orang. Pada zaman era modern, atau dimasa kejayaan islam, banyak cabang-cabang kepercayaan. Seperti syiah,sunni, dan ada lagi kepercayaan yang mengaku “menyebarkan ajaran Nabi”, tapi, mengkafirkan, membunuh sesama Muslim, memfitnah, mengadudomba, ini virus yang berbahaya dan harus dihilangkan oleh ahlinya.

Virus yang disebarkan oleh takfiri terlalu banyak dan menarik para muslim moderat yang toleran terhadap agama-agama, kepercayaan-kepercayaan untuk membantu menyebarkan virus tersebut. Nah, ini perlu sekali penenganan dari dokter atau para Ahli. 

Dokternya adalah para ulama, intelektual, dan dibantu oleh sekretarisnya yaitu, para muslim moderat dan semua elemen yang menjunjung tinggi “kasih-sayang” dan toleran terhadap sesuatu dan tidak asal berkata, orang tersebut adalah kafir, dan lain sebagiannya. Peran kita semua dalam mengatasi masalah virus ini, sangat “Penting”, demi kebaikan dunia. Sebab mengapa, virus-virus dari takfiri atau wahabisme, harus ditangani dengan serius oleh kita semua, karena, mereka telah mengisi alam yang indah ini dengan segala perilaku yang tak beradab. Bisa dikatakan juga, mereka telah melanggar Hak asasi manusia.

Istilah takfiriyah sudah muncul sejak awal islam khususnya pada zaman Nabi SAW dan berkembang pada saat ini. Dampak dari virus takfiri adalah berpotensi merusak kehidupan sosial, politik dan Akhlak.  Virus ini dapat melemahkan kekuatan ummat sekalian Alam terutama Islam. Murthada Muthhahari berkata, “kita tahu bahwa perang Dunia 2 telah selesai dalam sejarah. Tapi, ingatlah ada perang dunia ke 3. Sebab, perang ini akan ada korbannya. Yakni, orang Awam dan Anak-Anak Mudah yang tak memiliki ilmu. Sehingga di bodohkan..”

Takfiri berhasil menggoda para Anak Muda, tidak hanya orang-orang Tua atau yang gemar berjihad. Perempuan pun jadi pengikut kelompok takfiri ini, yang sering meng “kafir” kan orang lain. Disayangkan sekali, generasi muda yang berkarya, berkreativitas, dibodohi dengan iming-iming atau perkataan yang membuat mereka tertarik. Sungguh, ini juga termasuk masalah sosial. Ditingkat pendidikan pun, para guru atau semua asatid (baca : guru), harus tetap waspada. Jangan sampai doktrin mereka menghiasi sekolah dan setiap pemikiran Anak-Anak. Jadi, untuk menjaga virus ini, pemerintah harus ikut Andil dalam mengatasi Masalah ini. Ini sumber kejahilan ketika orang meng-kafir-kan sesama Muslim.

Pada hakikatnya, Muslim sejati ialah mereka yang menjaga Lisan, perbuatan kepada semua Manusia. Terutama kepada Non Muslim, yang merupakan saudara sesama Manusia. Kalau kita tidak ingin orang lain melakukan hal buruk pada diri kita, agama kita, keluarga kita, maka bersikaplah sepantasnya.

Penulis adalah, , CEO founder Ahlubait muda singosari-kupang(NTT)

Rumah Presiden dan Nasib Pengungsi Sampang

Pengungsi Syiah Qurban di Rusunawa copyOleh Hertasning Ichlas*

Umur Presiden Yudhoyono akan berakhir 20 Oktober tahun ini. Dalam setiap pergantian rezim, apalagi kekuasaan yang berusia satu dasawarsa, kita warga negara, selalu bisa mengambil pelajaran: merenungkan bagaimana dan untuk siapa kekuasaan suatu rezim itu digunakan.

Di akhir jabatannya, Presiden Yudhoyono menerbitkan Peraturan Presiden No 52 Tahun 2014. Isinya mengatur penyediaan rumah bagi mantan presiden dan wakil presiden. Bahwa keduanya patut mendapat kediaman yang layak.

Berapa meter luas rumah, lokasi, desain, bentuk, dimensi, tata ruang, seluruhnya diatur dengan gamblang. Bahkan disediakan Peraturan Menteri Keuangan untuk mengatur nilai rumah yang ditaksir Rp 25-30 milyar diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Presiden Yudhoyono sampai perlu mengubah aturan sebelumnya soal penyediaan rumah dari maksimal 6 bulan setelah lengser menjadi harus sudah tersedia sebelum tak lagi menjabat.

Saya tidak pernah memilih Presiden Yudhoyono. Dan saya rasa itulah salah satu kebanggaan saya. Tapi, sebuah rumah bagi seorang mantan presiden dan wakilnya, buat saya itu pantas. Saya tak punya keluhan soal itu.

Keluhan saya ada di Desa Karanggayam dan Bluuran, Sampang. Tempat 600-an Muslim Syiah hidup turun-temurun. Pada suatu ketika di tahun 2011 dan 2012 kehidupan mereka porak-poranda oleh amuk fitnah dan kekerasan. 1 orang tewas, puluhan luka-luka, 50-an rumah hancur terbakar, dan 200-an warga hingga sekarang terusir dari kampung halamannya menjadi pengungsi lebih dua tahun lamanya.

Selama mengungsi mereka tinggal di emperan lantai ubin gedung olah raga Sampang. Kehilangan rumah dan ladang mereka sebagai sumber nafkah. Seterusnya mereka dipaksa mengungsi lebih jauh lagi di Rusunawa Sidoarjo. Anak-anak kesulitan sekolah, orang tua mereka kesulitan menafkahi mereka.

Dalam penderitaan hidup, iman mereka terus dilecehkan dan dijadikan sumber masalah. Mereka tidak diizinkan pulang ke kampung halaman karena keyakinan yang berbeda. Beberapa orang tua dan sanak saudara pengungsi telah meninggal dunia di kampung halaman. Sebagian pengungsi memberanikan diri pulang untuk ziarah.  Belum kering air mata dan belum usai doa-doa, aparat desa dan polisi mengusir mereka keluar dari kampung. Dicampakkan dari tanah leluhur dan kerabat mereka sendiri.

Yang perlu kita tahu, sebelum mereka beragama, warga Desa Karanggayam dan Bluuran adalah manusia dan kerabat sedarah. Pengungsi dan warga kampung sudah sadar mereka telah difitnah. Mereka telah saling memaafkan, merindukan dan menjalin perdamaian.

Warga kampung berkali-kali berkunjung ke pengungsian, mereka pula yang mengajak pengungsi pulang hidup rukun seperti sedia kala. Tapi keinginan warga kampung kalah keras suaranya, kalah kuasa penolakannya, dan kalah muslihat dari elit desa dan polisi.

Nestapa hidup dijalani pengungsi dengan tabah dan pantang menyerah. Tahun lalu mereka bertekad untuk bertemu Presiden Yudhoyono mengadukan nasib. Istri-istri pengungsi melepas suami mereka gowes ke Jakarta untuk bertemu Presiden. Para istri menitipkan pesan: “Bismillah berangkatlah. Jangan pulang sebelum bertemu Presiden.”

Setelah hampir sebulan di Jakarta, di akhir bulan Juli 2013, bertepatan di bulan suci Ramadan, pengungsi bertemu Presiden di Cikeas. Presiden berjanji akan menyelesaikan masalah dan mengembalikan pengungsi sebelum akhir jabatannya. Rumah akan dibangun kembali dan pengungsi bisa hidup rukun bersama warga di kampung.

Saya ada saat pertemuan itu bersama wakil pengungsi. Termasuk mendengar dari mulut Presiden wanti-wantinya  kepada kami agar kami jangan mendengar siapa-siapa, “Dengarkan saja saya (Presiden Yudhoyono). Saya akan selesaikan.” Presiden seperti memaksudkan perkataannya dari hati sehingga kami sangat yakin dia begitu serius.

Setahun sudah janji itu telah berlalu. Presiden Yudhoyono akan berakhir jabatannya. Hidup malah semakin berat bagi pengungsi. Mereka masih menjadi tawanan, terusir dari tanah dan ladangnya. Bekas rumah-rumah yang terbakar kini bersaing dengan ilalang yang tumbuh lebat.

Pertanyaan saya cuma satu: atas dasar moral apa kita merasa perlu tergesa-gesa membelikan rumah yang layak bagi Presiden yang telah membiarkan penderitaan pengungsi sedemikian lamanya. Karena hidup layak 200-an warga Sampang kalah berarti dari hidup Presiden?

*Wartawan The Geo Times dan Koordinator YLBHU

Diskusi Ilmiah Bukan Klompencapir

Oleh: Fikri Disyacitta*

Di saat saya tengah asyik menggarap skripsi mengenai perkembangan Syiah, sejenak teringat kembali momen ketika mengikuti sebuah seminar akbar dengan tajuk “Diskusi Ahlusunnah dan Syiah: Beda Akidah, Shariah, atau Politik?” yang dihelat pada hari Sabtu (6/4/2013) silam di sebuah perguruan tinggi negeri berbasis teknik di Surabaya.

Ketertarikan saya bermula karena banner acara terpampang mencolok di depan masjid kampus. Pikiran pertama yang terbersit saat membaca kata “diskusi” adalah sebuah sesi saling mengemukakan argumen secara ilmiah yang menghadirkan narasumber ahli dari pihak Ahlusunnah dan Syiah lalu ditutup dengan kesimpulan bersifat cover both side, sehingga saya memutuskan untuk hadir. Namun yang terjadi rupanya jauh panggang dari api. Tiga narasumber yang dihadirkan rupanya kompak menyerang Syiah sebagai ajaran menyimpang. Tidak dihadirkan narasumber ahli baik dari kubu Syiah atau setidaknya pakar yang bersikap adil terhadap isu Sunni-Syiah, sebagai pengimbang materi diskusi berformat seminar tersebut. Isu yang disajikan juga tergolong lagu lama: bahwa paham (Syiah) ini punya Quran sendiri, hobi mut’ah, mempraktikkan kesyirikan.

Hadirnya dua orang narasumber yang menyandang gelar akademisi (bahkan salah satunya tengah mengambil studi di luar negeri) tidak menjamin informasi yang disampaikan mencerahkan pengetahuan audiens. Melalui power point, ditunjukkan “bukti” gambar dan video mengenai sesatnya Syiah. Sampai-sampai screenshot komentar akun anonim di media facebook ditampilkan sebagai bukti pendukung bahwa penganut Syiah tidak berakhlak! Tak pelak hadirin yang mayoritas mahasiswa serta anggota lembaga dakwah kampus terbahak-bahak melihat gambar-gambar yang mendiskreditkan mazhab Ahlulbait yang menurut saya sangat tidak etis ditunjukkan dalam forum ilmiah.

Upaya Mematikan Nalar Intelektual

Sesi tanya jawab terlihat seolah sudah ditata sedemikian rupa: ketiga penanya yang ditunjuk moderator, meski dalam bahasa yang berbeda, pada intinya menanyakan bagaimana menangkal bahaya Syiah. Tidak satupun pertanyaan bersifat kritis seperti apakah rujukan nash dan ilmiah yang dijadikan sandaran narasumber dalam menyampaikan pandangannya memang kredibel. Pengalaman mengecewakan yang terngiang kembali tersebut membuat saya khawatir bahwa ada upaya sistematis untuk mematikan nalar intelektual mahasiswa dalam memelajari paham serta keyakinan yang masih asing dalam mainstream masyarakat Indonesia. Selain itu, sebagai penanggung jawab bidang keilmuan dalam organisasi mahasiswa, ada rasa miris ketika sakralitas diskusi ilmiah diturunkan derajatnya menjadi sarana indoktrinasi dan penghakiman “siapa benar siapa salah.”

Nampaknya, harus ada pemaknaan ulang mengenai apa itu diskusi ilmiah untuk membedakannya dengan acara kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan (klompencapir) di masa Orde Baru.

Dialektika Wacana adalah Niscaya

Berkaca dari peristiwa di atas, ada dua aspek menonjol untuk melihat apakah sebuah diskusi bernilai ilmiah. Lihat saja apakah dalam forum terjadi dialektika wacana yang ilmiah. Pada kasus diskusi di atas, seminar sudah ditata sedemikian rupa agar wacana bersifat monolitik: Syiah adalah ajaran sesat. Tidak diundangnya narasumber dari kalangan Syiah sebagai pembanding, serta adanya aroma setting pada sesi tanya jawab, mengindikasikan ketakutan entah dari pihak penyelenggara maupun pemateri jika sampai terjadi kontra wacana. Padahal jika mau fair, membawa label “diskusi” berarti harus siap dengan konsekuensi adanya dialektika wacana. Karena diskusi ilmiah sejatinya adalah sarana bertukar pikiran untuk melihat sebuah isu dari beragam perspektif untuk mendapatkan pemahaman komprehensif, maka pertarungan antara tesis-antitesis mutlak harus ada. Selain itu, diharapkan dialektika dapat memanusiakan audiens. Adanya wacana pro kontra tentu bisa memancing nalar kritis audiens untuk berpartisipasi aktif selama proses diskusi, baik itu bertanya maupun memberikan komentar. Tidak seperti forum klompencapir yang mengharuskan audiens untuk bertanya sesuai selera pemateri.

Menjembatani Polemik Tesis-Antitesis

Dalam konteks tulisan ini bisa diilustrasikan, harus ada laga argumen antara pendukung Syiah serta penolak Syiah. Tentu saja dialektika ini bukan upaya membuktikan siapa benar siapa sesat, tetapi sebagai ajang saling mengkonfirmasi pengetahuan yang didapat oleh kedua belah pihak. Baik pihak tesis maupun antitesis harus menyandarkan argumennya pada bukti saintifik seperti data statistik, catatan historis, atau fenomena empirik. Tidak semata-mata karena tendensi tertentu lantas membawa hal-hal yang tidak bernilai saintifik untuk dijadikan dalil dalam menyerang kelompok lain. Seperti pada kasus yang saya alami ketika pembicara dengan bangganya menjadikan kutipan sebuah akun media sosial anonim yang tidak bisa divalidasi kebenaran maupun pemiliknya untuk menjatuhkan kelompok Syiah.

Beruntung jika dalam forum kemudian tercipta sintesis sebagai jalan tengah untuk menjembatani polemik tesis-antitesis. Meminjam istilah Karl Marx, dialektika wacana dalam diskusi perlu diupayakan mencapai tahap sintesis agar paripurna. Contohnya, dalam meminimalisasikan polemik Sunni-Syiah, maka dicapai kesimpulan bahwa perlu ada upaya taqrib antarmazhab lewat forum silaturahmi, kegiatan sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.  (Fikri/Yudhi)

* Ketua Divisi Keilmuan Himaprodi Ilmu Politik, FISIP, Universitas Airlangga Surabaya

Haji: Tour Simulasi Akhirat

Haji adalah aktualisasi ketakwaan. Pada bulan Ramadan, kita menjadi tamu Tuhan. Sedangkan bulan Zulhijah, saatnya kita mendatangi Rumah Tuhan (Baitullah). Pada detik-detik terakhir haji itulah, kita tunjukkan loyalitas (dalam makna lahir) dan peleburan eksistensi (dalam makna batin) dalam wujud penyembelihan hewan kurban kepada Tuhan.

Kita berkunjung ke Baitullah, berharap Tuhan menyambut dan mengakui kita sebagai tamu-Nya yang sah. Imaji kita sebagai tamu yang diundang dalam bisa berubah menjadi tamu tak diundang ketika syarat-syarat sebagai tamu tidak kita penuhi. Maka Tuhan menyuruh kita menapaktilasi prosesi penghambaan Ibrahim dan keluarganya.

Selama ziarah agung berlangsung, confession tentang ketakberdayaan kita diuji dengan bagaimana kita bergabung dengan tamu-tamu Tuhan yang lain dari segala bangsa, mazhab, warna kulit, jenis kelamin. Maka haji menjelma dalam wujud lain sebagai ajang silaturahmi, transformasi informasi dan pengetahuan, menguatkan solidaritas dan konsolidasi akbar antar umat Islam sedunia. Tetes keringat dan aroma ketiak yang kita keluarkan adalah sekadar uap ketika tidak ada sikap egaliter dan keterbukaan batin untuk melihat segala perbedaan dan menghargai pluralitas sosial yang eksis di masyarakat.
Haji adalah miniatur dan momentum simulasi mahsyar.

Setiap insan dikembalikan kepada naturnya. Tak dibenarkan menyandang atribut apapun selain “muhrim”. Kain putih yang melilit tubuh setiap pelaku haji adalah seragam resmi yang secara otomatis menggerus semua perbedaan dan simbol-simbol kapitalistik. Siapapun dia, harus merasakan derita.

Wukuf adalah adalah latihan antri untuk audit. Padang Arafah adalah altar raksasa yang menampung seluruh umat manusia yang berjajar menanti auditing dan investigasi oleh pansus yang tak bisa anti suap.

Dalam fikih Ahlulbait, pelaku haji tidak diperkenankan menggunakan parfum dan semua sarana pamer dan kepura-puraan. Ia juga dikenai denda berat bila menunujukkan sikap narsis atau jongkak dengan bercermin. Ia bahkan tidak diperkenankan menutup kepalanya agar sengatan sang surya yang menusuk kulit kepalanya menyadarkannya akan peristiwa kolosal mahsyar. Ia juga diajarkan agar cinta lingkungan, tak dibenarkan membunuh nyamuk sekalipun atau mencabut tanaman hanya iseng. Ia juga mesti menjalani kehidupan bebas seks dan kesenangan baik secara imajinal maupun fisikal. Dan yang terpenting lagi, pelaku haji harus bisa menunjukkan sikap tegas dengan menolak segala kejahatan, kezaliman dan kebatilan yang dituangkan dalam prosesi bara’ah saat melempar jumrah.

Fenomena inilah yang ditakuti setiap penguasa yang arogan lagi zalim. Unjuk kekuatan di mana pun itu politis.

Mobilisasi umat Islam terbesar ini pun adalah juga politis. Pesan Tuhan menjadi gamblang. Haji yang diterima Tuhan, haji mabrur, adalah jihad fisabilillah. Bahwa syarat jihad adalah ketika kita menyatu bersama dan meresapi betul problem keumatan. Karena haji adalah penegasan tauhid, penafian terhadap selain Tuhan, terhadap segala bentuk kekuasaan arogan lagi zalim.

Semestinyalah gelar haji/hajah di depan nama orang adalah simbol bagi keberanian melawan setiap penindasan.

Dalam sejarahnya, sikap ini diaktualkan oleh Husain bin Ali. Ia mengingatkan bahwa Ka’bah yang ditawafi, tidaklah bermakna ketika para calhaj (calon haji) tak mengenal hakikat Ka’bah. Dalam sebuah khutbah mistisnya, Husain mengatakan bahwa sebagaimana Ka’bah ditawafi sebagai pusat dunia, maka semestinya dirinya yang ditawafi (ditaati) karena dia adalah porosnya manusia, imam zaman pada saat itu. Ia menuntaskan pengabdian kepada Tuhan dengan darahnya di padang Karbala.
Di sinilah, dengan melihat epik Karbala, ibadah haji memiliki relevansinya dengan jihad. Dan, perbedaan—dalam semua dimensinya—menjadi lebur dalam pribadi seorang imam zaman. Haji kita lakukan demi persiapan menyertai imam zaman kontemporer atau kepemimpinan universal yang bisa mengarahkan jihad kepada musuh sebenar. Labbaik Allâhuma labbaik.

Muhsin Labib (Dosen Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra Jakarta)

Imunitas Sosial dan Toleransi Rasional

Syafinuddin Al-Mandari*

Masyarakat itu adalah sebuah sosok. Dewi Candraningrum (2013) bahkan mengkonstruksi perspektif ini dengan menyatakan keyakinannya lewat studi ilmiah bahwa seseorang harus meletakkan perilaku individu menurut ajaran yang dipercayainya merupakan bagian dari tubuh sosialnya. Jauh sebelum Dewi melakukan studi atas sebuah kultur dan ajaran berpakaian sebagai refleksi tubuh sosialnya, yang membawanya kepada kesimpulan bahwa masyarakat itu memiliki tubuh. Seorang pemikir Muslim kontemporer, Mutadha Muthahhari (1978) menjelaskan bahwa sebagaimana individu, masyarakat juga memiliki jiwa. Ada jiwa individu dan juga ada jiwa sosial.

Perspektif-perspektif di atas membawa implikasi bahwa jika ada kelahiran individu, maka masyarakat pun dapat dilahirkan. Masyarakat juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan hingga kematian. Karenanya, maka ada juga apa yang disebut sebagai kematian sosial.

Ada masyarakat sehat sebagaimana adanya masyarakat yang sakit. Demi menghindari sebuah masyarakat menjadi sakit, diperlukan imunitas sosial. Imunitas sosial dalam tulisan ini diartikan sebagai daya tahan masyarakat terhadap hal-hal yang dapat merusak kesehatan organ-organ dan satuan-satuan pembentuk masyarakat lainnya.

Masyarakat Imun

Masyarakat imun ditandai dengan adanya perlawanan komponen masyarakat terhadap unsur eksternal pembawa penyakit sosial. Salah satu penyakit sosial yang mematikan adalah konflik. Dulu di era Orde Baru sebuah jargon yang amat terkenal adalah stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Kehidupan bangsa yang stabil menjadi salah satu andalan Orde Baru dengan sesuatu yang sering disebut sebagai Trilogi Pembangunan. Konsep ini menempatkan stabilitas sebagai kata kunci utama untuk memberi jaminan berjalannya roda ekonomi dalam desain pembangunan nasional.

Pencapaian situasi sosial yang stabil dalam pandangan pemerintah saat itu meniscayakan kebijakan struktural sekuat mungkin. Kalau perlu dengan tangan besi agar masyarakat dapat menikmati situasi rendah konflik di permukaan. Fakta memang menunjukkan bahwa konsep ini efektif meredam konflik dalam waktu tertentu. Lapisan di bawah permukaan berkata lain. Kondisi ini justru menumpuk residu kecurigaan, kesalahpahaman, dendam, dan sejenisnya yang pada suatu saat gampang meletus.

Perubahan sosial pada tahap berikutnya muncul ibarat menurunnya daya tahan tubuh masyarakat. Segala yang semula tersimpan menjadi endapan tersebut dengan gampang terkuak dan menyerang kedamaian serta merusak rasa aman anggota masyarakat. Rentannya masyarakat oleh serangan penyakit ini dapat diperhatikan pada fakta-fakta konflik Ambon (1999), Poso (2001), Sampit (2002), Transito (2007), Sampang (2012), serta kasus SARA lainnya.

Pendekatan yang digunakan dalam konsep stabilitas nasional atau stabilitas sosial tersebut ibarat sebuah proses injeksi bahan asing ke dalam tubuh sosial yang hanya dapat memaksa “konflik sosial” tersebut tiarap dan menunggu saat yang tepat untuk menyeruak dan mengejutkan masyarakat. Konflik sosial yang sulit dikelola dan dipulihkan akan hidup terus-menerus dalam masyakarat hingga terkapar di liang kubur sejarah. Masa depan hanya akan mengenangnya bahwa pada masa lalu di tempat tersebut  pernah hidup sebuah masyarakat.

Apa sajakah yang mati dalam serangan konflik yang dapat disamakan dengan kematian masyarakat tersebut? Tidak lain adalah ikatan-ikatan sosial yang dibangun berdasarkan nilai-nilai pembangun sistem berperilaku. Keluhuran, keadaban, kebenaran, kemanusiaan, kejujuran, keadilan, persamaan, dan sejumlah nilai baik itu tampil menjadi spirit sosial universal. Apabila ada kelompok sosial tampil berlawanan dengan nilai-nilai tadi sesungguhnya itulah sumber penyakit sosial itu.

Selama ikatan berupa spirit sosial itu tumbuh dengan baik, maka masyarakat itu tetap sehat dan tentu akan produktif menjadi sebuah peradaban besar. Oleh sebab itu, sampai di sini secara sederhana dapat dipahami bahwa perusak bangunan masyarakat adalah konflik, sebab konfliklah yang dapat melepas ikatan-ikatan spirit sosial tadi hingga bercerai-berainya komponen penyusun masyarakat.

Imunitas sosial dalam konteks ini menjadi sesuatu yang amat diperlukan. Imunitas sosial bukanlah formula sturuktural yang coba dipaksakan masuk ke dalam tubuh sosial melainkan sesuatu yang terbangun dalam kultur anggota masyarakat dan sudah menyatu dengan aliran darah dan denyut nadi masyarakat. Jika ini juga hilang, maka kematian sosial sungguh-sungguh akan nyata.

Toleransi Rasional

Tidak ada masyarakat yang benar-benar homogen. Tingkat heterogenitasnya sajalah yang berbeda-beda. Masyarakat yang beragam itu membutuhkan sebuah ikatan yang selalu harus terpelihara dengan baik. Salah satu perusak ikatan itu adalah intoleransi. Sikap kesalingpahaman yang juga lahir dari kesalingpercayaan. Francis Fukuyama (2000) menyebutnya dengan trust. Baginya, trust adalah modal sosial.

Sebagai modal sosial, trust sama posisinya dengan uang atau faktor-faktor produksi dalam ekonomi. Ia dapat digunakan untuk mengembangkan suatu usaha dan melipatgandakan capaian bisnis. Demikian pulalah halnya trust itu, dapat digunakan untuk mengembangkan dan melipatgandakan capaian masyarakat. Bagi masyarakat yang merupakan fakta heterogenitas, kultur, kebiasaan, hingga selera, sangat membutuhkan modal sosial ini.

Salah satu hal yang amat penting dalam menumbuhkannya adalah toleransi. Toleransi adalah konsep tentang sikap saling menerima dan memahami perbedaan tersebut tanpa harus mengurangi kepercayaan bahwa karakter khas suatu pihak adalah lebih baik, benar, unggul atau sempurna daripada yang lain. Tidak hidupnya toleransi sesungguhnya dapat menjadikan hilangnya imunitas sosial dan membawa tampilnya masyarakat menuju kerentanan penyakit.

Meski demikian, toleransi mendapat kritik berbagai pihak. Ada yang berpendapat bahwa toleransi juga justru menjadi alat untuk mengundang penyakit lainnya sebab toleransi disamakan dengan sikap permisif terhadap segala nilai termasuk keburukan dan penyimpangan-penyimpangan. Contoh paling ekstrem adalah penyimpangan keuangan, penyalahgunaan kewenangan, hingga persoalan moral. Menuntut toleransi atau sikap lunak terhadap hal-hal semacam itu sesungguhnya bukanlah sebuah toleransi melainkan sikap permisif. Anggaplah harus dipaksakan bahwa itu juga toleransi, namun dalam konteks pencapaian imunitas sosial, kita hanya butuh toleransi rasional. Toleransi yang dibangun di atas kerangka dan pertimbangan-pertimbangan akal sehat atau nurani manusiawi.

Toleransi rasional inilah yang dapat membedakan sikap tanpa kompromi bukan kepada perbedaan agama dan pilihan kepercayaan relijius dan semacamnya, melainkan kepada perilaku destruktif dalam domain publik, misalnya korupsi, penindasan, dan sebagainya.

Toleransi rasional lebih ramah kepada agama-agama namun bersikap tegas terhadap perilaku destruksi kemanusiaan. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah pembina Sekolah Cinta Bangsa, Jakarta.