Friday , October 31 2014
Breaking News

Category Archives: Opini

PESAN PERADABAN DARI KARBALA

Oleh: Syafinuddin Al-Mandari*

Pembunuhan merupakan kisah tertua di dunia. Bahkan ketika jumlah manusia di dunia ini masih “dihitung jari”, pembunuhan telah terjadi; Qabil membunuh saudara kandungnya, Habil. Silih berganti setiap zaman diwarnai dengan pertikaian.

Tanggal 10 Muharram 61 Hijriah, juga telah terjadi pembunuhan. Pembunuhan mana, tercatat sebagai paling kejam dalam sejarah kemanusiaan. Bumi Karbala, nama tempat pembunuhan yang dimaksud, dapat dibaca sebagai kitab abadi yang menceritakan peristiwa tragis itu. Karbala bukan satu-satunya tempat terjadinya peristiwa pembunuhan. Akan tetapi, peristiwa Karbala satu-satunya catatan yang membawa pesan agung tentang manusia dan peradabannya. Suatu pesan tentang pengorbanan suci seorang manusia suci dalam membela ajaran suci.

Bila peristiwa lain merupakan cerita pengorbanan yang bermotif kepentingan individu, keluarga, bangsa, kepentingan ekonomi dan politik, maka yang satu ini adalah pengorbanan bermotif ruhani. Apa keistimewaan pengorbanan ini?

Pertama, pilihan sadar. Bacalah betapa dahsyatnya pengorbanan Socrates, filsuf Yunani. Suatu cerita tentang seorang yang memilih mengakhiri hidupnya dibibir gelas beracun. Socrates memilih, bukan terpaksa. Justru karena itulah, pengorbanannya demikian agung dan dikenang dengan penuh kebanggaan. Bandingkan dengan pengorbanan pasukan Thariq bin Ziyad! Di sana memang ada kisah heroisme tapi di-setting sedemikian rupa sehingga pelaku-pelakunya tak punya pilihan lain. Sejatinya, pengorbanan Socrates dari sudut pilihan sadarnya, lebih patut dibanggakan dibanding pengorbanan yang dilakukan dalam keadaan terpaksa.

Seperti Socrates yang tahu benar bahwa di depannya ada kematian, dan juga memiliki kesempatan untuk lolos dari kematian, Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. di Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah, juga tahu bahwa dirinya tengah dihadang oleh pengkhianatan yang akan mengakhiri hidupnya. Beliau juga punya kesempatan untuk menghindari peristiwa itu. Pasukan-pasukannya juga memiliki kesempatan yang sama.

Jelang pertarungan tak seimbang antara pihak Al-Husain ra. berjumlah 73 orang dengan ribuan tentara Yazid, Al-Husain memberi kesempatan kepada pengikutnya untuk segera menyelamatkan diri. Berbeda dengan Thariq bin Ziyad, alih-alih memberi kesempatan kepada pasukannya untuk meloloskan diri, ia justru menciptakan kondisi agar pasukannya itu tak surut. Al-Husain dan pengikutnya berkorban dengan pilihan sadarnya.

Kedua, panggilan peradaban dan kemanusiaan. Seorang preman Pulo Gadung juga bisa menempuh kematian karena harga dirinya dihina. Kaum buruh pabrik juga bisa memilih mati karena ketersinggungan kelas. Mereka bisa mengamuk untuk kehormatan kelas proletar yang dirampas oleh kelas borjuis, ataupun penduduk negeri yang berjuang karena semangat kebangsaan.

Bukan desakan dan keterjepitan ekonomi dan politik, juga bukan sentimen kebangsaan, kelas, keluarga atau pribadi, yang menyebabkan Al-Husain menjemput maut. Beliau terpanggil untuk menjadi pelanjut risalah suci kemanusiaan yang mentradisi dalam diri para utusan Tuhan semenjak awal. Beliau terpanggil untuk memproteksi kejahilan berkelanjutan yang telah direncanakan para tirani. Beliau tergugah akan nasib umat manusia dan peradaban masa depan.

Pelajaran yang didiktekan oleh Imam Husain as. dari teriknya Karbala 10 Muharram 61 Hijriah. tersebut adalah; pertama, buat para penguasa, Imam Husain menyalinkan pesan keadilan dan pengayoman kepada rakyat. Kehadiran Imam Husain ke Karbala adalah untuk mempersaksikan diri bahwa pemimpin adalah orang yang paling pertama yang harus menentang ketidakadilan. Peristiwa Karbala juga sekaligus memberi contoh paling sempurna bagaimana perbedaan pemimpin yang jiwanya hidup ditengah rakyatnya, dengan pemimpin yang hidup di istana megah sambil membiarkan hak-hak masyarakat terampas.

Usai peristiwa Karbala, terbukti bahwa kekuasaan berjubah agama kian hari kian menyimpang dari nilai suci dan watak fitrah manusia. Dapat dibayangkan seandainya tak berdiri tegar seorang Husain untuk mengantarkan pesan peradaban pada umat manusia ke akhir zaman. Sebagai pemimpin, seyogyanya kesyahidan Al-Husain ditiru sebagai kesyahidan dalam melindungi rakyat dan masa depannya.

Kedua buat kaum intelektual, kaum yang seyogyanya menjadi suluh sosial. Terhadap mereka, dari langit karbala terpancar pengumuman panjang yang berisi pesan untuk memompakan keberanian yang cerdas kepada masyarakat. Keberanian yang cerdas adalah konsistensi untuk tetap berada pada pilihan kebenaran kendatipun seluruh manusia tidak berada di pihaknya.

Tugas para intelektuallah untuk memberi keyakinan akan prinsip-prinsip yang tak tertipu dengan slogan berjubah agama dan doktrin-doktrin yang “seolah-olah” suci. Karbala berpesan agar setiap intelektual tak menjadi tukang stempel pada kebijakan para tiran. Al-Husain melakukannya dengan menolak tunduk kepada kekuasaan Yazid.
Alim-ulama dapat dimasukkan pada bagian ini. Adalah dosa besar bagi mereka jika berdiam diri menyaksikan ketertidasan diperagakan dengan berbagai macam model. Jangankan mengendarai ayat-ayat Allah sebagai alat justifikasi atas suara penguasa zalim, berdiam diri menyaksikan kezaliman merupakan dosa besar bagi mereka.

Sebagai pemilik ilmu, mereka mestinya memilih kesyahidan dalam kebebasan menyatakan yang benar dan memperjuangkan yang adil. Tiada berarti ilmu yang dipersembahkan ke hadapan penguasa zalim. Itulah pesan Al-Husain yang kecerdasannya merupakan warisan kecerdasan Rasulullah saw, untuk memilih kematian yang indah dalam kemerdekaan mengajarkan kebenaran, tak berkompromi pada kemunafikan penguasa, tidak tergoda oleh bujukan, dan tidak pula dapat ditakut-takuti dengan kematian.

Ketiga, buat orang kaya, Karbala memberi pesan untuk tak menjadi penopang rencana-rencana jahat para tiran. Demikian juga, agar tidak meniru konglomerat yang terpaksa tunduk kepada Yazid karena takut kehilangan harta.

Keempat, buat rakyat, peristiwa Karbala mengandung ajaran untuk bersatu padu dalam kesetiaan tulus terhadap pemimpin yang benar. Para pengikut Al-Husain adalah bukti nyata kesetiaan itu, ketika rakyat yang lainnya berlepas tangan dan mencari selamat.

*Pengurus Sekolah Cinta Bangsa

Tanda Tanya seputar Hijrah dan Muharam

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Selain kalender Masehi, ada kalender yang disebut kalender Hijriyah, baik qamariyah maupun syamsiah. Ia disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim al-hijri), bukan karena ke-arabannya, namun karena ditetapkan sejak hijrahnya Nabi Muhammad saw. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar bin Khathab pada tahun 638 M (17 H). Hijarh Nabi ditetapkan sebagai awal kalender Islam, menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi dan hari wafatnya. Kalender ini disahkan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad.

Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 Masehi).

Selain memiliki kalender Hijriyah, bangsa Indonesia juga memiliki kalender sendiri, yaitu kalender Jawa. Kalender ini adalah adaptasi dari kalender Islam (Hijriah qamariyah), karena sama-sama mengawali tahun baru pada tanggal 1 Muharram meski berbeda nama, yang sejatinya juga merupakan olahan dari nama bulan Arab. Nama Muharam diubah dengan Suro, berasal dari Asyura, (asyrah atau 10), tanggal monumental yang dikenang sebagai tragedi pembantaian al-Husain, cucu Nabi saw di Karbala, Irak.

Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya memiliki kemiripan. Pada abad ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun demikian, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa.

Sebenarnya, bulan Muharram lebih tepat dianggap sebagai bulan keprihatian, empati dan perlawanan. Inilah tanggal merah sejati, yang dikenal dengan Asyura, yaitu 10 Muharam. Tanggal merah sejati ini telah menjadi bagian dari budaya dan tradisi Indonesia, seperti di Jawa, Melayu, dan Maluku. Di Jawa, pada bulan Muharam, tetangga saling berkirim bubur Sura atau jenang Suro, sebuah makanan khas Muharam dan Asyura, yang berwarna putih (kesucian) dan bertabur warna merah (kesyahidan). Sebagian orang Jawa melakukan meditasi untuk merenungi diri di tempat-tempat sakral, melakukan lek-lekan (begadang) hingga pagi hari di beberapa tempat yang dianggap sakral. Ada pula yang melaksanakan upacara Grebeg Suro. Di Maluku dan Sulawesi, warga pesisisr enggan melaut di bulan ini. Di Sumatera, terutama di Padang, Riau, dan Aceh, diadakan upacara Tabut pada 10 Muharam. Bahkan, tarian Saman khas Aceh diduga sebagai jejak upacara ratapan Asyura yang disertai dengan pemukulan dada sebagai simbol kesedihan.

Ada apa di 10 Muharam dan Asyura? Menurut Dr. Zafar Iqbal, pakar sejarah budaya Persia dan Indonesia, dalam Kafilah Budaya (Citra: 2006), tradisi-tradisi itu berakar dari peristiwa tanggal merah 10 Muharram (tanggal monumetal pembantaian Husain bin Ali bin Abi Thalib) yang terjadi di Karbala sekitar 89 tahun sejak wafatnya sang datuk, Muhammad saw. Sayang, sebagian besar umat Islam tidak lagi mengingatnya, dan memperingatinya sebagai bulan sukacita.

Bulan Muharam (Suro) menjelang. Sebagian orang menganggapnya sebagai bulan kemenangan seraya baku kirim pesan pendek berisi ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, berpuasa dan menyantuni anak-anak yatim. Namun, tidak sedikit umat Islam di Indonesia dan negara lain meyakininya sebagai bulan duka seraya menganggap hari kesepuluhnya sebagai puncak kedukaan tersebut. Itulah 10 Muharam, yang akrab disebut dengan Asyura.

Bulan Suro perlu dikenang demi merawat cinta kepada kebenaran sekaligus benci kezaliman. Tanpa cinta dan benci yang positif ini, perlawanan dan perjuangan hanyalah sederet aksara tak bermakna dan huruf-huruf yang mubazir. Inilah buhulan-buhulan iman yang harus terus terjuntai dengan erat dan indah (al-urwah al-wutsqa).

Terlepas  dari itu semua, menjadikan hijrah sebagai awal penanggalan Islam dan menjadikan hijrah sebagai peristiwa monumental menyisakan sejumlah pertanyaan. Hijrah adalah keputusan meninggalkan kampung halaman, Mekkah, dan menetapkan di Madinah adalah SK Nabi karena lemahnya posisi sosial, politik, ekonomi dan militer para pendukung beliau yang saat itu merupakan kelompok minoritas. Hijrah bisa dianggap sebagai langkah taktis menyelamatkan diri (eksodus, evakuasi dan pencarian suaka) pada dasarnya sulit diasosiasikan dengan sukacita, justru sebaliknya.

Mungkin yang lebih tepat untuk diperingati sebagai momen sukacita dan kemenangan adalah hari kembalinya Nabi dan para muhajirin dalam peristiwa kolosal epik yang dikenang sebagai hari “Fathu Makkah” atau hari pembebasan Mekkah.

*Dosen Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra, Jakarta

Bersama Kafilah Al-Husein (as) Kukuhkan Pancasila, Tolak Kekerasan Atas Nama Agama

Muslimin dan umat manusia pada Asyura 1436 Hijriah berada dalam suasana prihatin. Lebih dari tahun-tahun sebelumnya, keprihatinan kali ini nyaris menyentuh derajat yang lebih tinggi dari sekadar gejolak, konflik, dan konfrontasi manusia berjiwa pembangun dengan sekelompok perusak manusia dan kemanusiaan. Gejolak fisik disertai hantaman terhadap tatanan nilai sudah menyentuh ambang batas yang dapat membedakan kebenaran dan kebatilan.

Saat ini kebatilan diserukan oleh kelompok-kelompok yang mengangkat bendera kebenaran, berjargon kitab suci, dan berlindung pada lambang-lambang keagamaan—persis seperti yang dihadapi Al-Husein dan Imam Ali 1400 tahun lampau. Laksana menciptakan kondisi yang menyerupai era pengaburan nilai oleh penguasa Damaskus di tahun ke-60 Hijriyah, kini para penyeru ke “jalan Allah” sudah hampir sempurna mencampurbaurkan kalam Allah dengan impuls hewani. Jika bukan karena Asyura yang terjadi 1377 tahun lalu dan yang berulang setiap tahunnya di berbagai belahan dunia, maka umat manusia kini sudah kehilangan akal untuk membedakan dan memilih mana yang sejalan dengan Al-Qur’an dan mana yang bertentangan.

Kondisi menjelang dan setelah Asyura 1436 Hijriah saat ini mendekati pertaruhan berlangsung tidaknya jiwa Islam atau hanya akan berhenti pada upacara keagamaan saja. Kondisi yang membawa manusia harus memilih mengorbankan ritus individual menuju ritus peradaban agung umat manusia. Kondisi menjelang dan setelah Asyura 1436 Hijriah sekarang akan menjadi ujian paling penting bagi kaum Muslimin untuk memilih kelangsungan ruh agama dan peradaban manusia ataukah hanya tinggal pada monumen keagamaan yang mati.

Pelajaran yang diwariskan Imam Husein ‘alaihisshalatu wassalam kepada segala bangsa di dunia ini adalah memilih panggilan ruh peradaban umat manusia di atas ritus lahiriah haji pada 9 Dzulhijjah 61 Hijriah. Haji amat penting dan utama tetapi melawan penindasan yang dapat meluruhkan jiwa dan raga agama jauh lebih penting. Dan karenanya, kemenangan Imam Husein di Karbala adalah kemenangan darah (manusia) atas pedang (modal fisik); kemenangan nilai dan substansi atas simbol luar; kemenangan kualitas atas kuantitas; kemenangan para pembangun terhadap para perusak.

Asyura kali ini juga berada dalam suasana kebangsaan yang sedang diuji. Melalui semangat Asyura ini, diharapkan akan mendarah daging sikap tegas untuk memilih hidup damai, adil, melawan ekstremisme, menolak intoleransi serta mengukuhkan cita-cita kebangsaan yang termuat dalam kesepakatan bersama.

Bangsa Indonesia telah mencapai kesepakatan besar di awal berdirinya dengan ikrar yang sadar untuk hidup bersama sebagai sebuah bangsa besar di tengah bangsa lain dalam semangat Pancasila dan UUD 1945.

Mengenang Imam Husein dan peristiwa Karbala bukan hanya berarti larut dalam duka dan tangis tetapi kemudian melalaikan pesan-pesan substansial Imam Husein. Sebaliknya, pesan-pesan kemanusiaan, perjuangan suci, tanggungjawab memikul misi besar Islam, kesabaran, ketabahan, dan segenap nilai lain yang diperagakan Imam Husein di padang Karbala itulah yang menjadi tema dasar Asyura.

Asyura bukan hanya sepotong sejarah masa lalu tetapi sebuah madrasah yang telah dan terus bakal melahirkan manusia-manusia besar sepanjang sejarah. Dan karena itulah persisnya Asyura terjadi setiap hari dan Karbala ada di mana-mana; kullu yaumin Asyura wa kullu ardhin Karbala. Semua pencinta Imam Husein adalah para anggota kafilah kebenaran, keadilan dan kemanusiaan sepanjang sejarah di tiap zaman dan tempat. Bagi mereka, Asyura adalah momen yang berulang-ulang sepanjang hayat dikandung badan untuk memilih antara haq dan batil; menolong yang tertindas atau menyerah pada penindas. Asyura bagi mereka itu adalah kegiatan tiap hari di segala tempat di muka bumi ini.  (Musa/Yudhi)

Mengapa Imam Husain Menjadi Simbol Abadi Perjuangan Moral Universal?

Oleh: IZ. Muttaqin Darmawan[1]

Topik telah menjadi wacana global, ketika para tokoh dunia—termasuk para tokoh dunia sekuler Barat dan Timur—secara jujur mengakui heroisme Imam Husain dengan puncaknya pada peristiwa tragis di medan Karbala. Dikenal pula dengan sebutan Al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib kw atau, cucunda terkasih Nabi Muhammad Saw dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Kekaguman para tokoh dunia terhadap kepahlawanan Imam Husain Itu telah ditunjukan lewat pelbagai pengakuan hingga abad modern ini.

Sebanyak 1137 tokoh dunia para pengagum kepahlawan Imam Husain termuat di dalam buku Saed Zomaezam[2]. Pengakuan jujur tokoh terdepan dalam sejarah Indonesia yakni Bung Karno, kemudian Gamal Abdul Nasser (negarawan Mesir), Syaikh Muhammad Abduh (mufasir besar Mesir), Muhammad Iqbal (filosof Islam, Pakistan). Kita dapat pula mencatat bahwa pengakuan jujur para tokoh dunia didasari oleh dorongan kata hati mereka, seperti pengakuan Mahatma Gandhi (negarawan Hindu India), Dalai Lama (pemimpin spiritual Buddha Tertinggi Tibet), dan juga—kita boleh heran—pengakuan Mao Ze Dong (pemimpin Komunis RR China), Che Guevara (Pejuang revolusioner Bolivia), F. W. Nietzche (Filosof sekuler Jerman).

Dalam pandangan Dalai Lama, kepahlawanan Imam Husain serta ayah beliau itu adalah sebagai ‘pengejawantahan’ risalah Nabi Muhammad Saw secara konsisten dan konsekuen, sehingga Dalai Lama lalu berandai-andai dengan berucap:
“Jika sekiranya agama Buddha memiliki dua tokoh agung seperti Imam Ali ibn Abi Thalib dan putranya, Imam Husain dan memiliki buku Nahjul Balaghah serta peristiwa Karbala, maka niscaya tak akan tersisa manusia di muka bumi kecuali menjadi penganut Buddha”. Suatu pengakuan tulus betapa Dalai Lama dengan agama Buddha Tibet yang dipeluknya sangat merindukan tokoh agung sekaliber kedua anggota Ahlul Bayt tersebut.

Tak kalah menariknya pengakuan jujur yang terungkap dari mulut Mao Ze Dong, pemimpin komunis Republik Rakyat China, ketika menerima delegasi Aljazair yang dipimpin oleh jamilah Boukheird (Srikandi Aljazair). Ucapan Mao dengan merujuk kepada perjuangan Imam Husain:
Kalian datang mengambil pelajaran dari kami, padahal revolusi Husain yang memiliki pelajaran penuh nilai ada pada kalian”.[3] Seharusnya dunia Islam malu terhadap sindiran keras Mao tersebut, karena realitanya kebanyakan kalangan muslimin, termasuk di Indonesia, tidak peduli dengan syahidnya Imam Husain. Karena boleh jadi terpengaruh oleh literatur sebagian kaum orientalis Barat, yang dalam pandangan mereka bahwa perlawanan Imam Husain terhadap tirani yang busuk dan angkara murka itu sebagai “pemberontakan” terhadap kekuasaan yang mereka anggap sah, maka anggapan mereka beliau layak mendapat hukuman.[4] Ironis sekali, karena berlawanan dengan pengakuan jujur Mao Ze Dong itu.

Terkontaminasinya jatidiri oleh sentimen firqah, yang tidak diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw harus segera diakhiri. Jika para tokoh dunia sekuler Barat dan Timur pun mengakui perjuangan beliau sebagai simbol abadi dalam menegakkan kebenaran yang diinjak-injak oleh tirani kekuasaan duniawi. Maka seharusnya heroisme beliau itu dijadikan contoh oleh umat Islam dari pelbagai aliran faham keislaman—tidak hanya Syi’ah—, yang ditanamkan di dalam hati sanubari. Karena kebenaran dari Allah SWT pasti dapat ditegakan oleh umat Islam, jika bersatu dalam ikatan ukhuwah Islamiyyah.

Dapat kita katakan ini sebagai anomali sejarah, jika ternyata para tokoh dunia Barat dan Timur sangat mengagumi Imam Husain, sementara mata hati sebagian umat Islam sebaliknya. Sehingga akhirnya menenggalamkan hati mereka ke dalam persoalan agama yang memandang remeh pelbagai peristiwa tragis yang mempengaruhi jalannya sejarah yang dialami keluarga Nabi Saw.

Membedah Masalah dengan pendekatan SWOT Analysis

Selanjutnya bagaimana kita seharusnya mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah heroisme beliau yang gugur di medan Karbala sebagai ‘martir’ Islam sepanjang masa, untuk menjadi bekal yang otentik dan absah bagi perjuangan menegakkan kebenaran Islam yang telah “di-desain” oleh Allah SWT sebagai agama pemungkas sampai Hari Kiamat.
Untuk menjawab pertanyaan yang menjadi topik di atas itu, kita dapat menggunakan pendekatan ‘SWOT Analysis’, yaitu analisis terhadap strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang) dan threat (ancaman).

Strength (Kekuatan)

Strength (kekuatan) ini adalah kekuatan multidimensi mencakup pedoman umat manusia yang termaktub di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, beserta sunnah Nabi Muhammad saw yang dipertegas pula oleh kinerja ‘ring satu’ Rasulullah Muhammad Saw yakni eksistensi Ahlul Bayt (Keluarga Nabi Saw).

Di dalam skala politik global, strength di sini dapat berupa potensi besar politik dunia Islam yang dibingkai oleh heroisme Imam Husain yang tegar dan tegas—sebagaimana diakui oleh para tokoh dunia—untuk diterapkan dewasa ini, melawan tirani kekuasaan duniawi yang serakah yang direpresentasikan oleh hegemoni Barat dan Zionis Israel, sebagai fakta yang harus dihadapi. Tapi dengan syarat mutlak, yakni dunia Islam bersatu sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT di dalam QS.[3] Ali ‘Imran ayat 103, empat belas abad yang lalu yang maknanya:
Dan berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah dan janganlah berceri-berai, dan ingatlah nikmat Allah ketika kamu dahulu (masa jahiliyah bermusuhan) lalu Allah mempersatukan kamu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Bahwa sang Imam itu gugur adalah realitas sejarah. Tapi esensi darahnya itu telah ‘mengalir’ dalam relung hati sanubari segenap umat Islam sedunia—khususnya yang senantiasa mengagungkan Ahlul Bayt—hingga empat belas abad setelah peristiwa tragis itu, bahkan kita yakin sampai Hari Kiamat.

Selanjutnya Strength juga termasuk potensi besar kekayaan sumber daya alam dunia Islam yang melimpah. Dunia Islam adalah pemilik 60% deposit minyak dunia dan 40% cadangan gas alam dunia, dan juga dalam bentuk kekuatan finansial dunia Islam yang non-ribawi.

Weakness (Kelemahan)

1. Kelemahan Penegakan Ukhuwah Islamiyah

Segenap umat Islam umumnya bersikap inkonsisten (tidak taat) kepada perintah Allah SWT untuk menegakkan persatuan dalam “keanekaragaman aliran faham keislaman”, sebagaimana perintah-Nya yang termaktub di dalam QS. [3] Ali ‘Imran ayat 103 tersebut di atas.
Kasus-kasus friksi Islam Sunni-Syiah yang sering muncul baik di Timur Tengah maupun di Indonesia bersumber dari perbedaan interpretasi atas ajaran Islam dan sejarah yang menjadi masalah khilafiah belaka, yang dalam visi saya, hal itu hanya di sekitar masalah ‘agama bekas’ (the second hand religion) belaka, hasil pemahaman umat Islam dari pelbagai firqah. Yang semula sesungguhnya berasal dari sumber pokok yakni agama yang diterima langsung oleh ‘tangan pertama’ (the first hand religion) yakni Nabi Muhammad Saw dari Allah SWT.

Pemahaman pada ‘agama bekas’ inilah yang secara fanatik dijalankan, seolah-oleh sebagai agama tersendiri yang diperjuangkan dan didakwahkan di lapangan, yang akhirnya menimbulkan friksi horisontal antar firqah hingga bunuh-membunuh, sejak awal abad Islam.

2. Kelemahan Penegakan Dakwah Islamiyah

Umumnya umat Islam bersikap Inkonsisten terhadap perintah Allah di dalam QS.[16] An-Nahl ayat 125, yang maknanya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

3. Kelemahan Penegakan Politik Global

Dalam konteks politik global, ada bukti otentik soal inkonsistensi dunia Islam khususnya dunia Arab pada perintah Allah SWT yang termaktub di dalam Kitab Suci-Nya itu seperti ketika Konferensi Liga Arab digelar di Kairo, Mesir, 19 Juli 2008 seperti dilansir harian Republika, Jakarta, 21 Juli 2008. Di dalam ruang sidang itu terpampang kaligrafi indah yang mengutip firman Allah SWT di dalam QS.[13] Ar’Ra’d ayat (11), yang intinya bahwa nasib manusia ditentukan oleh usahanya sendiri. Kemudian firman Allah SWT di dalam QS.[3] Ali ‘Imran ayat 103, seperti yang sudah dikutip di atas, yaitu memerintahkan supaya bersatu padu dan tidak bercerai-berai. Lalu ada pula dikutip QS.[3] Ali Imran 110, yang intinya bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi segenap manusia.

Akan tetapi apa yang terjadi ? Begitu konferensi selesai dan bubar, lalu para delegasi pulang kembali ke negara masing-masing maka perseteruan antar pemimpin Islam Arab Sunni sendiri tetap saja berlanjut, apalagi dengan negara Syi’ah Iran. Oleh sebab itu jangankan membangun pax Islamica (perdamaian Islam), sekedar membangun pax Arabica saja mereka tak mampu. Bagaimana mungkin dapat menghadapi Zionis Israel yang dibantu Amerika ?

Opportunity (Peluang)

Pertama, bagaimana dunia Islam meneladani heroisme Imam Husain dapat mengimplementasikan strength (kekuatan) pokok agama yang ada di dalam ‘blue print’ (cetak biru) Allah SWT, yakni Al-Qur’an, Kitab Suci pamungkas hingga akhir zaman. Juga kepada Sunnah Nabi Muhammad Saw sebagai langkah implementasi isi kandungan Kitab suci Al-Qur’an.

Kedua, Islam yang tetap konsisten pada “ketauhidan” Allah SWT yang murni, tanpa dikotori oleh kemusyrikan. Teologi Islam yang menjunjung tinggi tauhid-Nya benar-benar murni dan steril dari setiap upaya menyekutukan-Nya dengan yang lain, tidak sebagaimana agama-agama yang lain.

Ketiga, Dunia Islam sejatinya dapat mendayagunakan potensi besar sumber daya alam yang melimpah, baik deposit minyak bumi sebesar 60% dari cadangan dunia, serta 40% gas alam dunia, bukan sebaliknya menjadi komuditas dunia luar Islam.

Keempat, Allah SWT mengajari umat Islam memperlakukan urusan finansial dalam dunia usaha harus pula sesuai dengan aturan-Nya yang termaktub di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, yakni menjauhi riba, sehingga keberkahan Allah SWT akan senantiasa turun pada dunia usaha umat Islam.

Threat (Ancaman), Hambatan dan Tantangan

1. Proses korosi yakni adanya proses karatan ajaran Islam yang berbahaya dalam bentuk sikap jumud (statisme yang dogmatis) yang menghinggapi kebanyakan umat awam dari semua pengikut aliran Islam. Memang pada realitasnya kasus penafsiran pada ajaran pokok Islam ini kemudian menjadi masalah khilafiah (“the second hand religion” atau agama ‘bekas’) yang dianggap oleh muslim awam sebagai ajaran pokok. Sementara itu ajaran pokok agama yang diterima langsung oleh ‘tangan pertama’ (“the first hand religion”) yakni Nabi Muhammad Saw dari Allah SWT terabaikan.

2. Langgengnya disintegrasi dunia Islam yang diakibatkan oleh egoisme (kesombongan) para pemimpin negara-negara Islam, boleh jadi direstui oleh para pemimpin firqah-firqah Islam. Kondisi seperti ini sangat merugikan bagi dunia Islam, karena hanya menguntungkan pihak dunia Barat dan Zionis Israel.

Kesimpulan

Idealnya umat Islam dari berbagai firqah dapat mewarisi heroisme serta ‘ruh jihad’ Imam Husain, yang juga dikagumi oleh tokoh dunia sekuler sekalipun, karena faktanya kepahlawanan beliau itu telah menjadi “simbol abadi perjuangan moral universal”. Tapi fakta politik global dunia Islam menunjukkan bahwa realitas ancaman hegemoni Barat dan Zionis Israel tetap saja tidak dapat mempersatukan potensi besar kekuatan melawan Barat itu yang direpresentasikan oleh dua ‘mainstream’ Islam: Sunni-Syiah.

Sejatinya dalam skala global pula, prinsip ukhuwah Islamiyah yang direpresentasikan Sunni-Syiah itu dapat terwujud dengan modal dasar strength akidah Islam yang tetap menjunjung tinggi tauhid Allah SWT secara murni, yang ditunjang oleh kekuatan duniawi SDM dunia Islam dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, serta aspek finansial yang jauh dari sifat ribawi, sehingga dapat meraih kekuatan Allah SWT.

Ditinjau dari aspek dakwah Islamiyah, dapat ditegaskan, akibat yang ditimbulkan oleh ‘percekcokan’ keyakinan Sunni-Syiah selama ini yang berimplikasi pada cara-cara para praktisi dakwah Sunni-Syiah di lapangan hingga dewasa ini yang tidak sesuai dengan etika Islam, sebaiknya segera diakhiri jika kedua golongan besar Islam itu sama-sama menempatkan Zionis Israel sebagai lawan mereka.

Oleh sebab itu, dalam konteks peringatan syahidnya Imam Husain pada bulan Muharram ini, dari lubuk hati yang paling dalam, saya “si faqir yang dhaif” dengan memuji kebesaran Allah SWT memanjatkan doa kiranya keberkahan, shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw beserta Ahlul Bayt. Kepada Allah SWT pula bergantungnya harapan, kiranya para ulama kedua firqah Sunni-Syiah dapat membuang jauh-jauh fanatisme sempit yang disertai egoisme sektoral, agar tercipta ukhuwah Islamiyah yang hakiki. Karena sesungguhnya Allah SWT tidak suka kepada siapa pun yang selalu memelihara egoisme, sehingga tidak ada jaminan akan memperoleh keridhaan-Nya.

[1] Lecktor Kepala (IV c) Dosen UIN Bandung (2002-2011) dpk, pada STAI Madinatul Ilmi, Depok-Pembina Utama Muda (SK Presiden RI No. 79/K, 2010).
[2] Lihat Saed Zomaezam, Al-Imam al-Husain Shaghil ad Dunya (10 Hari yang Menggetarkan Dunia), Beirut, 1431/2010, alih bahsa Faisal Djindan, Jakarta, Papyrus, 2012.
[3] Ibid, h. 140.
[4] Lihat Yusuf Sou’yb, Aliran-aliran Sekte Syiah, Jakarta Pustaka Alhusna, 1982, h. 28. Para pembaca modern dewasa ini akan bersikap kritis dan memandang tidak fair (tidak jujur) terhadap bukunya yang merujuk penulis kalangan  Sunni Timur Tengah, seperti Muhyeddin Al-Khayat dalam Tarikhul Islam (1935), karena banyak fakta sejarah yang kontradiktif dengan pengakuan para tokoh dunia Barat dan Timur. Padahal seharusnya ia menganalisis bahan penulisan itu secara objektif, sebagaimana pandangan para tokoh dunia itu.

Takfiri dan virus berbahaya 

Oleh: Abdillah Husain*

Takfiri ini, sesuatu kelompok yang bersifat radikal, arogan, dan semua sifat buruk maupun tidak pantas, ada pada nya.  Takfiri melahirkan virus-virus yang berbahaya. Virus tersebut tidak dapat dihilangkan oleh sembarangan orang. Pada zaman era modern, atau dimasa kejayaan islam, banyak cabang-cabang kepercayaan. Seperti syiah,sunni, dan ada lagi kepercayaan yang mengaku “menyebarkan ajaran Nabi”, tapi, mengkafirkan, membunuh sesama Muslim, memfitnah, mengadudomba, ini virus yang berbahaya dan harus dihilangkan oleh ahlinya.

Virus yang disebarkan oleh takfiri terlalu banyak dan menarik para muslim moderat yang toleran terhadap agama-agama, kepercayaan-kepercayaan untuk membantu menyebarkan virus tersebut. Nah, ini perlu sekali penenganan dari dokter atau para Ahli. 

Dokternya adalah para ulama, intelektual, dan dibantu oleh sekretarisnya yaitu, para muslim moderat dan semua elemen yang menjunjung tinggi “kasih-sayang” dan toleran terhadap sesuatu dan tidak asal berkata, orang tersebut adalah kafir, dan lain sebagiannya. Peran kita semua dalam mengatasi masalah virus ini, sangat “Penting”, demi kebaikan dunia. Sebab mengapa, virus-virus dari takfiri atau wahabisme, harus ditangani dengan serius oleh kita semua, karena, mereka telah mengisi alam yang indah ini dengan segala perilaku yang tak beradab. Bisa dikatakan juga, mereka telah melanggar Hak asasi manusia.

Istilah takfiriyah sudah muncul sejak awal islam khususnya pada zaman Nabi SAW dan berkembang pada saat ini. Dampak dari virus takfiri adalah berpotensi merusak kehidupan sosial, politik dan Akhlak.  Virus ini dapat melemahkan kekuatan ummat sekalian Alam terutama Islam. Murthada Muthhahari berkata, “kita tahu bahwa perang Dunia 2 telah selesai dalam sejarah. Tapi, ingatlah ada perang dunia ke 3. Sebab, perang ini akan ada korbannya. Yakni, orang Awam dan Anak-Anak Mudah yang tak memiliki ilmu. Sehingga di bodohkan..”

Takfiri berhasil menggoda para Anak Muda, tidak hanya orang-orang Tua atau yang gemar berjihad. Perempuan pun jadi pengikut kelompok takfiri ini, yang sering meng “kafir” kan orang lain. Disayangkan sekali, generasi muda yang berkarya, berkreativitas, dibodohi dengan iming-iming atau perkataan yang membuat mereka tertarik. Sungguh, ini juga termasuk masalah sosial. Ditingkat pendidikan pun, para guru atau semua asatid (baca : guru), harus tetap waspada. Jangan sampai doktrin mereka menghiasi sekolah dan setiap pemikiran Anak-Anak. Jadi, untuk menjaga virus ini, pemerintah harus ikut Andil dalam mengatasi Masalah ini. Ini sumber kejahilan ketika orang meng-kafir-kan sesama Muslim.

Pada hakikatnya, Muslim sejati ialah mereka yang menjaga Lisan, perbuatan kepada semua Manusia. Terutama kepada Non Muslim, yang merupakan saudara sesama Manusia. Kalau kita tidak ingin orang lain melakukan hal buruk pada diri kita, agama kita, keluarga kita, maka bersikaplah sepantasnya.

Penulis adalah, , CEO founder Ahlubait muda singosari-kupang(NTT)