Wednesday , September 3 2014
Breaking News

Category Archives: Opini

Soekarno (Bag.7)

Proklamasi di depan rumahProklamasi

Bung Karno dan Bung Hatta tiba kembali di Jakarta tanggal 14 Agustus 1945, satu hari sebelum Kaisar Hirohito menyatakan “Menyerah Kalah Kepada Sekutu”. Setiba di rumahnya di  Jl. Pegangsaan Timur 56 (Sekarang Jalan Proklamasi) telah berkumpul beberapa orang pemuda, dan menanyakan apa intruksi dari Bung Karno.

Tetapi keesokan malamnya, tanggal 15 Agustus, sejumlah pemuda datang lagi, dan mendesak Bung Karno supaya memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia malam itu juga. Namun sebelumnya, Bung Karno sudah menentukan hari Kemerdekaan sendiri yaitu tanggal 17 Agustus 1945. Bung Karno yakin tanggal 17 Agustus 1945 itu, adalah hari keramat. Ia jatuh pada hari jum’at legi. Al-Qur’an diturunkan 17 Ramadhan. Orang Islam sholat 17 rakaat.

Ternyata pada malam itu juga, sekitar pukul tiga menjelang subuh, para pemuda itu datang lagi. Bung Karno serta Bung Hatta diculik dan dibawa ke Rengasdengklok, dimana ada pasukan PETA bertugas.

Seharusnya tanggal 16 di pagi hari, sidang PPPKI dilaksanakan, untuk menyusun naskah Proklamasi. Para anggota PPKI tidak dapat menyelesaikan naskah itu, karena Bung Karno belum hadir. Oleh karena itu anggota PPPKI mendorong Ahmad Subardjo supaya mencari Bung Karno dan Bung Hatta. Dan memang benar-benar Bung Karno-Bung Hatta sore itu tanggal 16 Agustus sudah tiba di Jakarta, atas bantuan Laksamana Maeda.

Konsep teks proklamasi adalah apa yang ditulis oleh Bung Karno, yang kemudian diketik oleh Sayuti Malik. Seusai sidang PPPKI dilaksanakan, Bung Karno pulang ke rumahnya. Ia tidak langsung tidur, walau Malarianya sudah mulai kambuh lagi. Bung Karno menulis berpupuh-puluh surat yang ditujukan kepada kawan-kawan sepergerakan, memberi nasehat dan petunjuk, apa yang harus dilakukan setelah proklamasi dilakukan. Ada yang mendapat tugas di bidang pertahanan, ada yang bertugas mengatur pemerintahan sipil, pembentukan komite kemerdekaan daerah di setiap kota, dan lain-lain.

Pada jam tujuh pagi keesokan harinya, yaitu tanggal 17 Agustus 1945, sekitar seratus orang lebih berkumpul di halaman rumah kediaman Bung Karno. Mereka datang berbondong-bondong membawa bambu runcing, skop, tongkat, parang atau golok, dan apa saja yang bisa dijadikan senjata. Dengan cara ketuk tular, orang-orang ini sudah tahu, bahwa pagi hari ini, Bung Karno mengumumkan Kemerdekaan.

Bung Karno memulai pidato pertamanya tanggal 17 Agustus 1945 yang antara lain berkata:

“Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tapi pada hakekatnya tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita mengambil nasib bangsa dan tanah air dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan berdiri dengan kuatnya.”

Kemudian Bung Karno membacakan teks Proklamasi, persis tanggal 17 Ramadhan, dan 17 Agustus 1945. Proklamasi ini di samping didengarkan seluruh rakyat Indonesia, ialah juga ditujukan kepada seluruh dunia.

Proklamasi 17 Agustus ini tidak dilaksanakan dalam upacara seremonial, tidak merupakan pesta kemegahan, karena memang semuanya masih dalam darurat dan siap tempur. Fatmawati menjahit sendiri bendera Merah Putih (sekarang di perbendaharaan istana Negara), dan seorang pemuda memotong bambu untuk tiang bendera, dan Latief Hendraningrat seorang Perwira PETA menaikkan Bendera, diiringi lagu Indonesia Raya oleh semua yang hadir.

Proklamasi dengan segala kelengkapan dan kesahajaannya, sudah berlangsung. REVOLUSI SUDAH DIMULAI! (Malik)

Bersambung…

Soekarno (Bag. 1)Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 3)Soekarno (Bag. 4)Soekarno (Bag. 5)Soekarno (Bag. 6)

Soekarno (Bag. 4)

Kembali ke Gelanggang

Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, Bung Karno bertekad untuk membenahi PNI serta menggalang persatuan kembali. Sayangnya, saat Bung Karno keluar dari penjara, PNI sudah dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang oleh penguasa Belanda.
Tidak lama berselang, Bung Karno gabung dengan Partindo (Partai Indonesia) yang didirikan teman-teman Bung Karno saat di PNI. Dari situlah, Bung Karno mulai melakukan pergerakan lagi. Pengawasan terhadap Bung Karno oleh Belanda pun diperketat. Untuk menghindarinya, Bung Karno pergi ke sebuah desa bernama Pangalengan di Jawa Barat, sekitar Maret 1933, dimana Bung Karno menulis risalah yang beliau sebut judulnya “Mancapai Indonesia Merdeka’’ (MIM). Isi pokok risalahnya adalah bagaimana cara-cara paling mungkin untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Risalah MIM dianggap oleh pihak Belanda sangat mengganggu kekuasaan mereka, sehingga pemerintah Belanda menyatakan “Terlarang atas peredaran buku MIM.” Risalah tersebut dicari kemana saja, baik oleh pengikut-pengikut Bung Karno, maupun oleh pihak Belanda. Jika orang Indonesia yang ingin mencari buku MIM karena ingin mengetahui isinya, sedangkan pihak Belanda ingin menemukanya untuk dimusnahkan. Pihak Belanda pun mengerahkan pasukan untuk menggeledah rumah-rumah warga, dan jika didapati buku tersebut, kepala rumah tangga akan ditahan untuk dimintai keterangan.

39Penangkapan Kedua Bung Karno

Tak berselang lama, Bung Karno ditangkap untuk kedua kalinya. Ia dikembalikan ke penjara Sukamiskin selama delapan bulan. Tanpa diadili, pihak Belanda mengasingkan Bung Karno ke suatu tempat terpencil di desa Endeh, Flores.
Secara rahasia, Bung Karno dikeluarkan dari Sukamiskin, dimasukkan gerbong kereta khusus menuju Surabaya. Tujuan akhirnya adalah pulau Bunga di Flores. Sesampainya di Surabaya, Bung Karno dimasukkan ke dalam sel, di sel itulah kemudian orang tua Bung Karno , yaitu pak Sukemi dan ibu Idayu sempat menjenguk Bung Karno. Sukemi yang mengharapkan putranya Bung Karno menjadi seorang Karna seperti pahlawan dalam Mahabarata, menangis tersedu menyaksikan putranya itu.
Sementara, Ibu Idayu, sembari melinangkan air mata tetap berusaha menghibur puteranya agar tetap semangat, dan dengan caranya yang khas membisikkan, “Sudah suratan takdir bahwa Soekarno menyusun pergerakan yang menyebabkan ia dipenjarakan, lalu dibuang dan kemudian dia akan membebaskan kita semua. Soekarno bukan lagi kepunyaan orang tuanya, sudah menjadi kepunyaan rakyat Indonesia. Kami mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan kedaan ini.”
Keesokan harinya, Bung Karno dibawa ke pelabuhan. Walau dirahasiakan, akan tetapi rakyat sempat tahu, dan mereka berjejal sepanjang jalan menuju pelabuhan, sambil melambaikan bendera Merah Putih.

Masa Pembuangan

Pembuangan Bung Karno ke pulau Bunga pada tahun 1934 ini adalah atas dasar bahwa Bung Karno adalah orang yang membahayakan bagi pemerintah Hindia Belanda. Sikap tidak ramah ditunjukan penduduk Endeh, Flores terhadap kedatangan Bung Karno. Namun Bung Karno memahaminya lantaran sebab, rakyat sudah dipropagandai oleh pihak Belanda yang mengatakan bahwa Bung Karno adalah orang jahat.
Namun, dengan berbagai cara dan pendekatan, perlahan masyarakat mulai menampakkan keramahanya kepada Bung Karno. Di pembuangan itu pula, Bung Karno banyak belajar dan berkarya. Walau dalam pengasingan, Bung Karno tak lepas dari pengawasan dari pihak keamanan Belanda.
Sempat juga Bung Karno ketika itu ditawarkan untuk melarikan diri oleh stoker kapal, namun Bung Karno menolaknya. Ia memiliki pendirian bahwa, “bergerak secara tersembunyi dan rahasia, bukanlah cara Soekarno. Bergerak untuk perjuangan kemerdekaan, tidak mungkin dilakukan secara rahasia.”
Setelah hampir lima tahun di Endeh, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu, Sumatra Selatan. Pemindahan tersebut terjadi setelah MH. Thamrin protes kepada Kolonial Belanda karena di Endeh Bung Karno terserang penyakit Malaria. (Malik)

Bersambung…Soekarno (Bag. 5) - Soekarno (Bag. 6)Soekarno (Bag. 7)

- Soekarno (Bag. 3) Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 1)

Soekarno (Bag. 3)

0b3a9-soekarno_1959Mewujudkan Fikiran Dalam Gerakan Konkrit

Setelah lulus dari THS (ITB sekarang), Soekarno mulai merumuskan apa yang yang ia analisa ke dalam tulisan “Nasionalisme, Islamisme, Marxsisme.” Dalam tulisan tersebut, Soekarno meyakini bahwa seluruh aliran politik yang ada di Indonesia dapat dipersatukan. Setelah menyelesaikan studinya, Soekarno benar-benar membulatkan tekad untuk terjun langsung ke dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Pertumbuhan organisasi politik Soekarno di mulai dengan mendirikan Algemeene Studie Club yang didirikan di Bandung. Perkumpulan studi ini berkembang dan mempunyai cabang di beberapa kota di Jawa. Perkumpulan ini juga menerbitkan Majalah “Suluh Indonesia Muda” sebagai media pertukaran fikiran antar anggota organisasi, selain untuk menyampaikan pemikiran terhadap rakyat banyak.

Pada tanggal 4 Juli 1927 (umur Soekarno 26 tahun), Soekarno mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Taka setelah itu, pada tahun 1928 PNI dirubah menjadi Partai Nasional Indonesia yang memiliki program “Indonesia Merdeka Sekarang”. Hadirnya PNI dan program kemerdekaanya, menjadikan Pemerintahan Kolonial sangat marah dan berupaya dengan segala cara menghancurkan Soekarno dan membubarkan PNI. Mulai saat itulah Pihak keamanan Belanda mulai memata-matai Soekarno, bahkan menguntitnya hingga ke desa-desa yang selalu didatangi Soekarno untuk menyampaikan pidatonya kepada rakyat.

Soekarno dalam usahanya menyadarkan rakyat, menggunakan bahasa yang sederhana, yang gampang dicerna oleh rakyat lapisan bawah, dengan gaya yang amat menarik, yang belakangan disebut orang ‘Retorik’.

Revolusi Budaya

Dalam pembicaraanya antar kawan sesama pimpinan partai, Soekarno biasa dipanggil dengan sebutan “Bung” begitu juga Soekarno memanggil kawan-kawanya. Saat itu Soekarno menilai, bahasa Indonesia hanya dipakai kaum ningrat saja, sebab itulah revolusi budaya ia canangkan. Dari situ bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan yang dipakai siapa saja, oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ketika itu, Soekarno merasa perlu adanya rangkaian sebutan lengkap … disaat itulah dikembangkan sebutan Pak, atau Bapak, Bu atau IBU dan Bung yang berarti saudara. Di jaman Revolusi Kebudayaan inilah Soekarno mulai dikenal sebagai Bung Karno.

Penangkapan Pertama Bung Karno

Pendirian PNI dan dan terjadinya Sumpah Pemuda yang di Sponsori Bung Karno dinilai Belanda sangat berbahaya. Sebab, dalam kongres itu sudah dicapai Sumpah Pemuda dengan tiga unsur pokok yang amat kuat mempersatukan seluruh rakyat Indonesia, menjadi bangsa Indonesia.

Walau pihak Kolonial Belanda sangat mengawasi kegiatan Bung Karno, tapi Bung Karno tidak gentar untuk terus menggembleng masa rakyat, untuk menghidupkan semangat mereka agar sadar sebagai satu bangsa dan memiliki kemauan untuk merdeka.

Bung Karno dalam menggembleng masa rakyat, juga mengadakan penilaian atas perkembangan Internasional. Pada bulan Desember 1929 itu muncul issue tentang kemungkinan terjadinya Perang Dunia II setelah Pada tahun 1918 Perang Dunia I berakhir. Issue itu dijadikan Bung Karno sebagai momen yang baik untuk dijadikan pembangkit semangat rakyat. Maka dalam pidato tanggal 29 Desember 1929 di dekat Yogyakarta, Bung Karno berkata:

“… imperialis, perhatikanlah! Apabila dalam waktu tidak terlalu lama lagi perang pasifik menggeledek dan menyambar-nyambar membelah angkasa, apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Samudra Pasifik menjadi merah oleh darah dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, maka disaat itulah rakyat Indonesia melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan menjadi Negara merdeka.”

Pidato Bung Karno tersebut yang kemudian dijadikan alasan pihak Belanda melakukan penangkapan terhadap dirinya dan beberapa pimpinan PNI. Bung Karno dianggap telah melanggar Undang-undang tentang penghasutan kepada rakyat atas pidatonya tentang “issue Perang Pasifik”. Meski di kemudian hari, penangkapan itu sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya oleh pihak Belanda.

Mereka kemudian dimasukkan ke penjara Banceuy, di ruang yang berbeda-beda. Selain ruang penjara yang kotor dan tanpa jendela, ruang penjara yang disediakan hanya berukuran lebar 1,5 meter dan panjang 2 meter. Pergerakan nasional pun seperti dalam keadaan jeda, dan tokoh-tokoh nasional berpikir dua kali untuk melakukan aksi, agar terhindar dari penangkapan.

Setelah melalui pengadilan dan dijatuhkanya vonis 4 tahun penjara terhadap Bung Karno, ia kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Di rumah penjara ini Bung Karno berkontemplasi menyelami dirinya dan hubunganya dengan dunia, lalu mengambil kesimpulan: “Aku membiasakan diriku untuk menyadari bahwa cita-cita yang besar datangnya dari saat-saat yang sepi,…” (Malik)

Bersambung… Soekarno (Bag. 4)Soekarno (Bag. 5) Soekarno (Bag. 6) - Soekarno (Bag. 7)

- Soekarno (Bag. 2)Soekarno (Bag. 1)

Reborn

Hampir saja kebahagiaan mudik kami sekeluarga berubah menjadi bencana. Mobil yang kami tumpangi saat memasuki sebuah kota di Jawa Timur nyaris dihantam oleh truk pengangkut para gerombolan yang melakukan “pawai takbiran”, yang karena euforia lebaran, peraturan lalu lintas diabaikan.

Untunglah, sopir kami sigap menepikan mobil ke bahu jalan. Alhamdulillah, kami selamat sampai di kota kelahiran sempat merayakan Idul Fitri di rumah induk, tempat nenek kami menjadi “target sungkem”.

Takbir adalah tageline yang terdiri atas subjek “Allahu” dan predikat “akbar” (“maha besar” atau “lebih besar dari apapun”). Premis ini menampati posisi yang sangat penting dalam Islam, karena menjadi password dalam shalat, yang merupakan ekpresi lahiriah sebuah pengakuan akan kehambaan. Takbiratul-ihram berarti pengagungan (glorifying) yang menegaskan “cekal” (cegah dan tangkal) dari selain Allah.

“Allâh” adalah salah satu kata yang disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 980 kali, sebagaimana lafzh “ilâh” dalam beragam bentuknya (yakni dalam bentuk ilâh, ilâhan, ilâhuka, ilâhukum, ilâhunâ) 147 kali.

Sebagian ahli sejarah bahasa dan filologi beranggapan bahwa kata Allah berasal dari bahasa Ibrani, bukan Arab. Konon, orang-orang Yahudi biasa berkata ilahâ, lalu orang-orang Arab menghapus mad (bacaan panjang) pada akhir kata tersebut. Sebagian berpendapat bahwa kata Allah berasal dari bahasa Arab karena orang-orang Arab telah menggunakan kata ini beberapa abad sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Bangsa Persia menyebut-Nya khudâ dan îzad. Bangsa Turki menyebut-Nya târî. Dalam bahasa Indonesia disebut Tuhan atau Hyang. Apapun sebutannya, yang terpenting adalah substansi pemahamannya, yaitu zat yang eternal, tak berawal dan tak berakhir. Para filosof bahkan menyebutnya “Kausa Prima”.

Para ulama berselisih pendapat tentang artinya. Sebagian berpendapat bahwa Allah berasal dari kata uluhiyah yang berarti ibadah, yang mana ta’alluh mengandung arti ta‘abbud. Sebagian berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata dasar (walah), yang berarti tahayyur (kebingungan). Ada pula yang berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata kerja (alaha) yang berarti (fazi‘a) yang berarti permohonan pertolongan dan perlindungan saat dicekam rasa takut. Sekelompok ahli bahasa lain beranggapan bahwa kata Allah berasal dari kata kerja (lâha) yang artinya ihtajaba (terhijab) karena angan-angan dan imajinasi manusia tidak mampu menggapai esensi-Nya. Selain itu, masih banyak pendapat tentang artinya.

Ragam penafsiran tentang asal usul bahasanya juga kontroversi seputar artinya menunjukkan betapa takbir memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam.

“Allahu akbar” adalah kata yang paling menyenangkan di malam terakhir bulan Ramadhan. Setiap masjid, surau dan mushalla berlomba mengumandangkan takbir dengan nada dan irama khas lebaran. Meski sebagian suaranya fals, bagai dalam acara audisi untuk lomba nyanyi di telivisi, para pengumandang takbir lebaran tampak berusaha mengerahkan semua potensinya dan dan “menggeber” pita suaranya demi menyemarakkan malam yang dianggap sebagai awal “lahir ulang” (reborn) itu.

Takbir di Indonesia ternyata mengalami revisi, improvisasi, modifikasi dan bahkan remix. Kadang “Allahu akbar” tidak menggetarkan, malah menggoyangkan. Kadang “Allahu akbar” tidak menyejukkan, malah menyeramkan. Ironis, sebagian Muslim memberangus hak Muslim lain dengan teriakan “Allahu akbar”.

Setidaknya, ada beberapa tipe takbir. Salah satunya adalah “takbir tradsional” yang dikumandangkan pada malam lebaran hingga menjelang shalat id melalui pengeras suara masjid dan surau. Ia lebih mirip lagu wajib tahunan. Kedua adalah takbir yang belakangan mulai sering diteriakkan dengan nada sangat keras sebagai alat tekan terhadap kelompok lain. Biasanya, pemekiknya menggunakan atribut organisasi massa atau majelis taklim. Takbir tipe kedua ini bisa diberi nama “takbir horor”. Tidak disarankan mengkritiknya, demi alasan kesehatan. Takbir tipe ketiga adalah jenis takbir yang mengambil posisi ekstrem dari takbir tipe kedua, yaitu “Allahu akbar” yang telah di-remix dengan sentuhan rap, house music dan dangdut yang hot. Takbir, yang juga dinyanyikan terutama pada malam lebaran ini bisa dikategorikan “takbir genit.”

“Allahu akbar” semestinya dipekikkan dengan hati dan akal sebelum dipekikkan dengan lidah dan mulut. Makna sejati takbir adalah kesadaran akan ke-serba-terbatasan yang meniscayakan kerendah-hatian dan kesantunan.

Karena hanya Dia yang besar, maka siapapun tidak berhak membesarkan ego, organisasi, kelompok dan pandangannya. Allah berfirman, “Fala tuzakku anfusakum. Huwa a’lmu bil-muttaqin” (Jangan sok suci. Dia lebih tahu tentang siapa yang bertakwa) . Mohon maaf lahir dan batin.(ML)

 

Lebaran Hampa Pengungsi Syiah Sampang

IMG-20140726-WA0003Pesta demokrasi sudah usai, debat capres soal hukum dan HAM semakin maju dan nyata. Banyak kebajikan ditawarkan capres kepada publik. Presiden SBY pun terlihat semakin arif dan banyak mengingatkan para capres tentang kepentingan rakyat menjelang masa lengsernya. Tapi dalam dunia yang lebih nyata orang tertindas tetap saja jadi tontonan seperti nasib pengungsi Syiah Sampang.

Pengungsi Syiah Sampang sudah mengungsi dan terusir dari kampungnya sejak Agustus 2012. Artinya hampir genap dua tahun lamanya mereka terusir dan menjadi pengungsi. Di GOR Sampang dan kini di Rusunawa, Jemundo, Sidoarjo.

Sejumlah inisiatif bagus dari masyarakat untuk memulihkan konflik sudah dilakukan. Rakyat dengan rakyat sudah berdamai bahkan mengikatkan diri dalam skema “perdamaian rakyat”.

Tak cukup hanya itu, kolaborasi parapihak menawarkan resolusi konflik dengan program bedah rumah dan program orientasi pengungsi dalam asuhan Kiai Noer Iskandar SQ sudah disepakati para kiai, pengungsi dan warga di kampung. Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Kiai Noer Iskandar SQ, sejumlah kiai kunci dan pihak pendamping pengungsi sudah bersepakat dan mengikatkan diri dalam tanda tangan. Inilah salah satu terobosan paling krusial dari parapihak memunculkan resolusi konflik berbasis hak, power dan kepentingan.

Tapi ketika harus melewati otoritas Gubernur Soekarwo dan Presiden SBY, keduanya mengelak dan menepis setiap inisiatif seperti tak juga ingin menyelesaikan masalah kemanusiaan yang menjadi pekerjaan rumahnya.

Pengungsi secara pasti benar-benar mengalami relokasi tanpa harus disebut sebagai relokasi. Damai dan keinginan rukun warga di kampung kalah oleh keinginan pemerintah yang selalu menganggap dan mengatakan kondisi masih tidak aman dan karenanya pengungsi berkali-kali dilarang kembali ke kampungnya.

Kita tidak pernah tahu persis bagaimana, kapan dan dengan cara apa sebenarnya pemerintah berusaha menyelesaikan masalah dan menciptakan kondisi aman. Apa sebenarnya rencana pemerintah untuk mengembalikan pengungsi ke kampung halamannya agar kembali hidup rukun bersama warga yang juga kerabat mereka, dan jelas-jelas merindukan kepulangan mereka.

Jika pemerintah sebenarnya tak tahu dan tak bisa menyelesaikan masalah, atas dasar moral apa pemerintah melarang dan tak menggubris setiap inisiatif masyarakat sipil, pengungsi, dan warga kampung untuk mencoba menyelesaikan masalah mereka sendiri?

Karena penderitaan 300an warga pengungsi Syiah hanya statistik dari sebuah kaum minoritas yang tersesat?

Lebaran kali ini 1435 Hijriah, Koordinator pengungsi Syiah Sampang, Ikli Al Milal mengirimkan pesan dan foto (dalam lampiran) kepada saya. Isi pesannya saya kutip langsung:

“P.ris tadi minta ijin ke bnpb untk lebaran di rumah mertuax di pamekasan. Tp tdk dapat izin. kata irfan larangan pulang kampung ini umumx madura dan khussusx sampang.”

Pesta demokrasi sudah usai, tapi politik dan hidup sehari-hari tetap sama. Nasib pengungsi Sampang hanya catatan kaki dari begitu banyak persoalan ketertindasan publik dan ketidakbecusan politik menyelematkan hidup bersama.

Selamat lebaran Bapak Presiden SBY. Selamat lebaran Bapak Gubernur Soekarwo. Semoga hidup bapak aman, biarlah pengungsi saja yang selalu tidak aman.

Hertasning Ichlas
Koordinator YLBHU